Pernyataan siapa yang benar?
Ketika saya bawa ini kepada perbincangan iman, tidak seorang pun benar. Yang benar adalah, hidup ini kehendak Alloh. Dia mengadakan dan meniadakan sekehendak-Nya, atas kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas. Ini prinsip keimanan yang sudah tak bisa diganggu gugat.
Kegagalan memahami prinsip ini sering menjebak kita pada kemarahan. Sering kita marah karena sesuatu ada, padahal kita ingin itu tiada. Jerawat misalnya. Dan sering kita marah karena sesuatu tidak ada, padahal kita sangat ingin itu ada. Hidung mancung misalnya. Padahal ada dan tiadanya sesuatu hakikatnya sama saja, semuanya sama-sama ujian.
Kebodohan kita memahami kenyataan ini--bahwa ada dan tiadanya sesuatu itu atas kehendak Alloh--sering membuat kita melecehkan orang lain. Bayangkan di dalam, kelas, misalnya Anda lihat guru Anda tengok sana-sini, membuka-buka taplak meja, melihat ke kolong meja, membuka-buka tasnya. Anda pasti bertanya kepadanya: "Cari apa Pak?".
"Mencari kecamata." jawab Pak Guru. Dan saat itu Anda lihat kecamata nangkring di ubun-ubunnya, karena tadi dia angkat ke atas. Apa reaksi Anda?
Tertawa.
Mentertawakan lebih tepatnya.
Mentertawakan lebih tepatnya.
Dan kemungkinan besar, di belakang dia, Anda pun menggunjingkannya. Dan menjadikan itu cerita bahan tertawaan di mana-mana. Anda telah melecehkan guru Anda, dan itu dosa.Kalau saja Anda mengerti, ada dan tiadanya sesuatu atas kehendak Alloh, fenomena itu bukannya membuat Anda berdosa, sebaliknya, itu akan menambah keimanan Anda. Bagi pak guru itu, kecamata sejenak ditiadakan, dan kemudian lewat pemberitahuan Anda, dijadikan kembali kecamata itu ada. Ada tiadanya kecamata bagi Pak Guru, Allohlah yang menghendakinya.
Jadi, setujukah pada Mister Fox, bahwa hidup itu lucu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar