"Mas, maaf tiketnya!"
"Tidak ada Pak! Saya tidak punya!"
"Tadi tidak beli?"
"Tidak."
"Terus, kenapa berani naik?"
"Ya beranilah Pak, masa naik kereta saja takut."
"Seharusnya Anda beli tiket!"
"Emh, keretanya bisa mundur lagi nggak pak?"
"Tidak bisa!"
"Nah, seharusnya bisa Pak. Pemerintah, seharusnya memberikan layanan terbaik kepada rakyatnya."
"Ya, itu kan tidak mungkin!"
"Sama tidak mungkinnya dengan saya harus balik ke stasiun beli tiket!"
"Tujuan Anda mau ke mana?" Tanya secuity itu.
"Ke Stasiun Tanah Abang!"
"Sebab tak punya tiket. Maaf, sebentar lagi kereta mau berhenti. Silahkan Mas turun!"
"Tapi kan Stasiun Tanahabang masih jauh."
"Iya, itu salah Anda. Anda tak punya tiket!"
Tiba-tiba kereta berhenti.
"Nah, silahkan mas keluar!" Kata secuity.
"Bisa bapak contohkan bagaimana cara keluarnya?"
Secuity mencontohkan: melangkah keluar, turun, dan ketika itu, kereta kembali melaju. Pintu tertutup. Secuity itu tertinggal.
Bebas?
Benarkah?
Belum. Pas saya turun di Stasiun Tanahabang, orang menuju pintu keluar. Saya ikuti mereka, tampak pintu itu terjaga orang. Pintu itu terhalangi palang besi, yang baru mau terbuka, jika orang memasukkan tiket. Sadar, saya sudah terperangkap.
Ada 3 cara buat saya lolos. Pertama, saya buntuti orang, lalu ikut menerobos bersamanya. Kedua memberanikan diri ke sana, meloncat. Ketiga, saya susuri sekeliling stasiun ini, siapa tahu ada celah buat keluar. Dua pilihan pertama tak mungkin, saya penakut, jadi saya pilih yang ketiga. Menyusuri tepian stasiun.
Tampak sebelah sana perhentian gerbong kereta. Gerasi mungkin lebih tepatnya. Saya berjalan ke sana, sambil berharap, sebelah belakangnya garasi itu menyediakan pintu keluar.
Tampak beberapa orang mengurus mesin, dan saya berusaha memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan diri, takut ketahuan saya buronan. Buronan tiket.
Kawasan mengerikan itu saya masuki. Beberapa gerbong tua barkarat terdiam bengong. Rerumputan liar bertumbuhan di atasnya. Tak berani menengok ke dalam gerbong, takutnya seekor kuntilanak tiba-tiba nyengir, mengajak saya mesum. Saya takut tergoda. Sudah seminggu lebih jauh dari istri.
Saya perhatikan benteng semuanya tertutup. Bagian atasnya terpagari kawat berduri. Naik ke sana, selain berbahaya, juga bisa mengundang curiga. Kalau loncat lewat sana, turunnya ke dapur rumah orang. Saya belum siap diteriaki maling.
Akhirnya cuma diam. Termenung. Memikirkan nasib kenapa semalang ini. Tersesat. Tak tahu lewat mana mesti keluar. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah malang, tambah lagi tegang. Tampak dari jauh, pria gemuk hitam tanpa baju berjalan mendekat. Dari wajah kumalnya, sepertinya dia stres. Mending kalau stress, bagaimana jika dia ahli ilmu falak. Kemudian memalak uang saya, wah ini bahaya.
Secepatnya saya lari. Lewat lagi ke garasi gerbong, dan ketika itulah tampak seorang berseragam lewat. Mungkin dia orang kantor perkeretaan. Saya mengikutinya kemungkinan dia mau keluar, ternyata tidak. Namun setelah dia berbelok, saya lihat sebuah gerbang keluar.
Bebas lagi.......
(Catatan: Percakapan dengan secuity tadi fiktif, aslinya, tidak ada satpam nanya saya di kereta)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar