Minggu, 09 Maret 2014

Novel "Cinta di Ujung Sejadan" dan Tukang Becak Sesat


Alkisah, seorang tukang becak mengantar pulang anak sekolah ke sebuah gang. Di gang itu dia menemukan penumpang,  lalu mengantarnya menuju sebuah Desa. Turun naik bukit tanpa lelah karena dia mengejar uang. Penumpang kedua turun, naik lagi penumpang ketiga, seorang nenek, minta diantar ke rumah cucunya di desa lain. Si nenek turun, barulah si tukang becak sadar, perjalanannya sudah sangat jauh. Hari menjelang malam, adzan Maghrib berkumandang, barulah si abang, dia mengayuh terlalu jauh, . Dan ia sangat sungkan/ Lesu telah mengayuh becak kejauhan, kini bertumpuk dengan lesu melihat jauhnya jalan pulang.

Banyak orang, secara tak sadar, telah berjalan terlalu jauh, hingga ketika melihat jalan pulang, dia melihatnya dengan mata sungkan. Seseorang melakukan sebuah dosa, dari dosa tersebut berbuntut dosa-dosa lainnya, dan dari dosa lainnya itu, terus berbuntut, berbuntut, dan berbuntut dengan dosa yang semakin banyak, dan da;am keadaan ini seseorang menyadari dirinya telah berjalan terlalu jauh, dan ketika melihat jalan pulang, dia melihatnya dengan mata sungkan. Betapa berat dan jauhnya perjalanan pulang yang harus ia tempuh.

Apa yang harus dilakukan dalam keadaan ini? 

Dia harus pulang, dan supaya perjalanan pulangnya terasa ringan, dia harus berjalan perlahan, dan dia harus merasakan hatinya senang di sepanjang jalan.

Nah, sebenarnya, untuk orang semacam inilah seorang novelis muslim atau muslimah hadir. Mereka merangkai kisah, untuk membantu orang sesat terlalu jauh, membimbingnya secara perlahan, dan memberikan rasa senang di sepanjang jalannya pulang.

Lewat novel "Cinta di Ujung Sejadah" ini Asma Nadia melakukannya. Melalui narasi lembutnya, dia ingin membimbing orang kepada kesadaran, akan besarnya cinta yang Alloh titipkan pada hati orang tuanya. Hal itu dengan jelas dia sampaikan dalam pengantar novelnya ini:

".........lewat novel ini, saya ingin mengajak anak-anak mudah kita untuk memahami bahwa sikap keras, cerewet dan bawel  yang ditunjukkan orang tua, lahir dari cinta, betapa pun sepertinya sulit menemukan nuansa kasih sayang dari mereka selama ini."

Dengan kisah seperti apa mbak Asma menyadarkan kita?

Anda hanya tahu setelah membaca novelnya. Bersama kisah mengalir dan enak dibaca, dengan sentuhan kata-kata halus, diselingi riang canda, melankolis, sesekali kocak dan sesekali penuh renungan, Asma Nadia menghanyutkan pembaca ke kolam ceritanya. Hanyut dalam kesenangan, penasaran, tak sabar ingin terus dan terus menguak misteri dan memasang keping demi keping puzle yang pembaca temukan dari dari baris satu ke baris lainnya. 

Iya, tapi bagaimana novelnya? Bagaimana kisah singkatnya? Tolong berikan sedikit potongannya saja! Mungkin itu pinta Anda.

Maaf, kalau sampai saya bocorkan isinya, berarti saya penghianat. Pak Isa dan Bu Asma orang baik, masa saya khianati juga?

Tapi demi Anda, dan karena saya lebih cinta kepada Anda, untuk kali ini, saya khianati keduanya. Baiklah saya kutipkan sebagian isinya. Sebagai penyuka humor, saya hanya mengutip bagian kocaknya:

"Aisyah menyerah juga. Badannya yang besar mulai terasa berat. Iwan dan Peter tidak berani meledek balik gadis itu. Bisa-bisa kena hantam. Kan malu-maluin. Teman-teman di sekolah saja harus ekstra hati-hati jika harus meledek Aisyah. Kadang-kadang sih dia oke saja, enaklah. Tapi sering juga kalau si sensinya kumat, jadi main hantam. Padahal siapa pun tidak akan lupa, aksi gadis itu waktu pertama masuk SMA dulu. Bayangkan, genteng dua puluh hancur dengan sekali sikat! Gimana gigi mereka!"

Beginilah Bu Asma, di tengah kisah sendu, sempat-sempatnya dia menyisipkan humor. Dan humornya itu sukses. Orang senyum membacanya. Kehalusanya meragkai kata bisa menghipnotis orang orang, mencongkel bibir pembaca, dan memamerkan giginya. Secara halus mbak Asma bisa membuat pembaca terbahak meski dompetnya sedang kosong.

Itu baru satu paragraf, belum lagi paragraf lainnya. Lembar-demi lembar Anda meluncur tak terasa, turun naik roalcoaster emosi, hingga tahu-tahu, Anda sudah sampai ke halaman akhirnya, bersama sebuah kesimpulan: pelajaran berharga.

Dan jika Anda seorang tukang becak sesat, bersama kisah ini, mudah-mudahan, setelah menutup halaman terakhir novel ini, Anda sudah sampai di rumah Anda--rumah kedamaian Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar