Aku ingin mencoba,
Menyulam kalimah rindu,
Kepada seseorang yang nafsuku,
Begitu menghasratkannya
Kutulis ini:
"Miring kepala
Kutopang ibu jariku
Kutopang ibu jariku
Terpejam mata, bayangan merayap jauh
Menerjang hutan, menerabas padang ilalang,
Jauh khayalku mengembara, ke masa lalu, kepada sebuah masa
Ketika tengah angka tahun kalender, masih merangkai dua angka sembilan "
Ah
Aku tak puas
Kucari lagi, untaian kalimah lain
Aku tak puas
Kucari lagi, untaian kalimah lain
Kutemukan, dari tong sampah batin kelam:
"Sebuah buku tua dalam lemari
Pemuda itu beranjak, mengambilnya dan membuka, tepat halaman ke seratus
Melauanglah ingatannya, kepada suatu saat, ketika sebatang telunjuk mendarat di sana,
Pemuda itu beranjak, mengambilnya dan membuka, tepat halaman ke seratus
Melauanglah ingatannya, kepada suatu saat, ketika sebatang telunjuk mendarat di sana,
Menelusuri kata, menyisakan wanginya, tepat halaman ke seratus, maka
Pemuda ini membukanya lagi, mendekatkan wajahnya
Mengais sisa-sisa wangi,
Wangi jemarinya."
Pemuda ini membukanya lagi, mendekatkan wajahnya
Mengais sisa-sisa wangi,
Wangi jemarinya."
Tidak
Tidak juga mewakili
Bagaimana, di mana, ke mana bisa kucari
Oh iya internet, kubuka, kucopas, kumodifikasi:
Tidak juga mewakili
Bagaimana, di mana, ke mana bisa kucari
Oh iya internet, kubuka, kucopas, kumodifikasi:
"Kepada setiap keindahan, ada mata yang memandang. Kepada semua kebenaran, ada telinga yang mendengar, dan kepada masa lalu yang pergi, senantiasa ada hati yang rindu."
Masih juga kurang
Harus bagaimana, harus dari mana,
Oh ya, ada diary lusuh di mejaku, aku membukanya
Oh ya, ada diary lusuh di mejaku, aku membukanya
Kutemukan catatan di sana, catatan dari masa lalu, dari saat sesungguhnya
Saat remaja, saat sungguh-sungguh kurasakan, kerinduan yang dalam kepada seseorang
Saat remaja, saat sungguh-sungguh kurasakan, kerinduan yang dalam kepada seseorang
"Lebih sepuluh kali kucoba menyusun kata, setiap kali terkenang bayanganmu, kutuliskan semua ungkapan, keinginan, harapan, dan penyesalan atas kata-kata yang kusampaikan tanpa pertimbangan dulu--namun setiap tulisanku sampai ke tengahnya, segera teringat, kamu jauh, begitu jauh, putus asaku datang, ke manakah tulisan ini nanti hendak kusampaikan? Kepada siapakah dapat kutitipkan, tak seekor burung merpati pun kumiliki untuk mengantarkan suratku padamu. Terdiamlah aku, menyandarkan punggung ke dinding, termenung menatap atap, membayangkanmu, satu-satunya melati yang begitu kucintai."
Luka,
Kepadihan
Kepadihan
Hanya itu yang kudapati
Dalam kerinduan kepada manusia
Jadi, mengapa harus terus menerus kupelihara?
Dalam kerinduan kepada manusia
Jadi, mengapa harus terus menerus kupelihara?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar