Postingan Populer

Rabu, 19 Februari 2014

Tuhan, Aku Hanya Ingin Hidup 2

Dua nasib pepaya setelah tanggal dari tangkainya, jatuh terbuang dan membusuk, atau diambil orang, lalu nangkring di meja makan, dalam bentuk keratan dadu, dan menjadi makanan bergengsi. Aku memilih pepaya kedua. Jatuh begitu saja biarlah jadi nasib pepaya lain, sedang papayaku, harus bertahan, semangatku, harus terus hidup, sebagaimana yang selalu kuinginkan dan kupinta kepada Tuhan, aku hanya ingin hidup. Hidup ragaku, jiwaku, semangatku, segala-galaku. Maka selepas dari rumah ibu guru SD-ku itu, dan pulang ke rumah nenek, timbul rencana menawarkan diri bekerja pada salah seorang guru SMA. Biar apa sajalah aku di rumahnya, mau dia suruh mencuci, dia suruh mengasuh anak, membersihkan rumah, apa saja aku mau.

Namun sebelum niat itu terlaksana, takdir mempertamukanku dengan guru SMP. Ini guru spesial, guru penjaga perpustakaan, jadi, ijinkanlah aku untuk sorot balik. Dia guru enganku, karena seringnya aku berkunjung ke perpustakaan. Tak seperti anak lain yang berhamburan ke warung, waktu istirahat, aku lebih suka menimbun diri dengan buku. Bukan hemat, bukan tak mau, masalahnya mau jajan apa, uang tak ada. Jangankan buat jajan, ongkos kendaraan saja tak punya. Dari rumah ke sekolah, jalan kaki satu jam lamanya, dan aku memilih kelas siang, berangkat tengah hari, saat panas memanggang, pulang petang, kadang kemalaman. Buku perpustakaan itu urea pemupuk minat bacaku, karena ternyata, dalam buku, kutemukan dunia berbeda. Dunia tanpa sekat, dalam dimensi lain, aku bisa meloncat ke mana saja, ke masa lalu, kepada kehidupan lain, bersama orang lain, yang berbeda, dari kehidupanku yang nyata. Begitulah waktu itu, kursi perpustakaan sudah bosan dengan kedatanganku, mungkin, karena pantatku selalu selalu membuatnya panas, karena terlalu lama mendudukinya, namun untungnya tidak dengan guruku. Alih-alih bosan, malah yang ada--semakin sering aku datang ke sana, semakin dia bertambah sayangnya. Bangga tampaknya, seorang siswinya hobi membaca. Dari sanalah kami akrab, kami dekat, dan kini, saat dia tahu timbul tenggelamnya peruntunganku, cair rasa kasihnya untuk meraih, mengajakku tinggal di rumahnya, dan aku, demi kelanjutan pendidikanku, tanpa ragu, tawarannya kuterima.

Dari rumahnya inilah setiap hari aku berangkat sekolah. Naik delman, kemudian angkot, dan menikmati dunia pendidikan, bukan hanya dengan belajar, tapi juga menjadi orang terkenal. Bukan sekedar terkenal sebagai murid berprestasi, namun juga, terkenal sebagai ahli tidur. Di kelas seringnya aku terkantuk-kantuk, akan tetapi, karena tak seorang guru pun benci, karena, nyaris semua orang tahu siapa aku bersama kehidupan prihatinku. Ngantuk ini bukan sebab aku malas, namun karena, aku tunggal di rumah orang, harus bekerja, harus bangun dini hari, harus memijat, setidaknya empat kali sehari, mengurus orang tua lumpuh yang hanya bisa duduk di kursi roda. Tak seorang pun berani menegurku, malah syukur kupanjatkan, mereka memberikan nilaibagus, bahkan, memberiku beasiswa. Kawan, begitulah aku semasa SMA. Di angkot pun sama, seringkali kali kepalaku terbentur-bentur karena ngantuk. Jadilah, angkot bukan sekedar angkutan buatku, tetapi juga, penginapan kedua.

Jika kehidupan ini tak bisa kunikmati, akan susah bagiku menikmati kehidupan macam apapun. Jika tak bisa nyaman dengan kehidupanku sekarang, maka kehidupan macam apapun, kurasa takkan membuatku nyaman. Keyakinan ini kupegang setiap kali ufuk hati menerbitkan keluhan. Lelah rasanya harus terus memijat, dan nyaris sisa hari sepulang sekolah, aku tak boleh ke mana-mana. Rasanya terpenjara--Semua keluhan itu kuredam habis. Nasibku ini tiada apa-apanya dibanding Siti Hajar yang ditempatkan suaminya pada lembah gersang berbatu. Berlari payah bolak-balik Sofa Marwah mencari air, meninggalkan bayinya yang tergeletak hanya bisa meronta. Namun dia terus bertahan, karena satu hal dia pegang saat itu, sempurnanya rasa berserah kepada Yang Maha Kuasa, sebab ternyata akhirnya, tinggalnya di sana tiada salah, pahit nasibnya bertukar kota yang berkah..

Sambil aku menjalani keseharian, kerap kali teringat lagi kepada ayah ibu. Jika sudah sampai pada lamunan itu, nada murni harva kerinduan segera kupetik, mengiringi jerit lirih doa untuk keduanya di setiap dahiku tersungkur menyentuh sejadah. Dari tanah kembali ke tanah, sudah menjadi hakikat keberadaan manusia, meski harta seluas dunia, tak seorang pun sanggup lari mati, dan takdirku kini, yang masih tertinggal di atas bumi tanpa orang tua, kuharap, kisah hidup yatim piatu Muhammad nabiku, yang terus naik tangga menuju kemuliaannya, sedikit saja tertetes untuk alur kisah hidupku. Sedikit saja.

Terlalukah aku mengharapkan ini? Tapi bukankah memimpikan kemuliaan itu sebuah kemuliaan juga?

Singkat cerita, akhirnya tamat pula SMA. Kertas berstempel betuliskan ijazah itu kuterima. Ada angka-angka di sana, hasil kerja kerasku, yang pasti, orang tua manapun akan memeluk bangga anaknya karena nilai itu bagus, namun kepadaku tak ada, aku mendekapnya ke dada dan membawanya pulang, memperlihatkannya pada kakak yang membiayaiku. Tuntas sudah masa SMA, tinggal kuhadapi lagi pendakian lain: Kuliah.

Apa? Kuliah?
Biaya dari mana aku bisa kuliah?
Di jaman pendidikan serba komersil separah jaman ini, mana bisa ku kuliha. Melamukannya saja terasa payah. Itulah sebabnya, untuk jalan hidupku berikutnya, kupilih saja kuliah di kampus lebih besar: universitas kehidupan. Aku ingin segera melepaskan diri dari bayang-bayang orang lain, berdiri di atas kaki sendiri, aku mau bekerja.

Oh, ada yang tertinggal. Sebetulnya selama ini ada orang baik, yaitu anak perempuan guru perpustakaanku itu, selalu memberiku uang 150 ribu setiap bulannya, atas jasaku mengurus ayahnya  yang lumpuh itu. Darinyalah aku mendaptkan cukup bekal dan ongkos buat sekolah. Dia meraihku menjadi bagian dari saudaranya, dan aku mengambilnya menjadi bagian dari jiwaku. Itulah sebabnya ketika sampai masanya dia menikah, maka kebahagiaannya menjadi kebahagiaanku juga. Aku rela mengerjakan apapun yang dia minta dalam pernikahannya nanti, akan tetapi, dengan cintanya, dia hanya memintaku menjadi pagar ayu. Katanya aku sangat pantas, aku cantik--membuatku tersipu malu, dan segera kutawarkan, bagaimana jika kakak dan adik kubawa juga?

Dia setuju. Ketika adik kakakku datang, kemudian kami bertiga mendapatkan riasan, berkebaya dengan pulasan pipi merah merona, tiada henti decak kagum orang menghujani kami. Bukannya sombong, ini sekedar deskripsi, kami bertiga memang berwajah manis. Terlebih jika didandani, Rhoma Irama pun pasti melupakan istrinya. Maka jadilah kami pagar ayu. Di belakang meja tamu, kami bertiga sibuk membersi senyuman, membukakan buku, meminta semua tamu menulis data, menerima kado, dan memberikan cendera mata. Maklumlah ini pernikahan anak seorang guru, jadi tamu yang datang membludak dari mana-mana. Konsumsi pun tak tanggung-tanggung, menyewa katering, dengan staf profesional dari dunia perhotelan. Mereka para anak mudah necis berpakaian rapi, dan di sinilah, episode pertemuan dengan jodoh kumulai.................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar