Postingan Populer

Selasa, 18 Februari 2014

Tuhan, Aku Hanya Ingin Hidup!

http://www.mediafire.com/download/9y16epwsy9akadl/Iklim-Selamat+Tinggal+Penderitaan%28HQ+Audio%29.mp3
Soudtrack kisah yang akan saya tuturkan ini, adalah sebuah lagu lama dari Iklim, grup band dari Malaysia, yang cukup melegenda di negeri kita: "Selamat Tinggal Penderitaan". Kamu yang mau menikmatinya, bisa langsung klik kata download di atas.


Aku masih gadis kecil kala itu, masih kelas 1 SMP. Tinggal di kampung, dalam sebuah rumah panggung, berlantai kayu, berdinding jalinan bambu. Kedua orang tuaku buruh, bekerja sebagai penjahit. Meski hidup serba kurang, bahkan seringkali sampai berhutang, mereka berusaha menyekolahkan kami, yaitu, aku, adikku, dan kakakku. Kami tiga bersaudara, perempuan semua.

Tekanan hidup tak begitu kurasakan hingga ibuku jatuh sakit, terserang paru-paru, dan kemudian meninggal. Masih ingat, waktu itu bulan Oktober, dan 58 hari kemudian, ayahku menyusulnya karena serangan jantung. Meninggal dunia, meninggalkan kami, meninggalkanku, yang masih terlalu buta melihat jalanku berikutnya meneruskan hidup Katurug-katutuh, begitu orang Sunda menyebut. Antan patah lesung hilang, itu Peribahasa Indonesianya. Lenyap bumi tempat berpijak, hilang langit tempat bernaung, benang jatuh jarum tenggelam, beras tercuri tungku tergadai, lahan banjir benih pun hanyut, dan semua ungkapan lain, yang menunjukkan betapa berturut-turutnya kemalangan kami. Kami ditinggal mati tanpa warisan harta--sawah kebun habis semua, terjual buat berobat,--tiada warisan lebih berharga dari ayah buat kami, selain satu hal: semangat meneruskan sekolah.

Kami harus berpendidikan, begitu tekad prihatin mereka. Ayah ibu tak peduli cemoohan orang sekampung, yang kerap kali mencibir mereka. Orang-orang katakan, keluarga kami terlalu memaksakan diri. Hidup melarat seharusnya diam, tak usah banyak tingkah. Sampai pinjam sana-sini buat menyekolahkan anak. Sekolah itu cuma hak orang kaya. Ibu ayahku tutup telinga, tak mau mendengar itu, mereka tetap dengan tekadnya, kami harus sekolah. Mereka berjuang sekuat tenaga.

Sumpah, tak sanggup kutahan sedu tangisku. Betapa perjuangan mereka itu betapa, tak sanggup kugunakan kata lain selain kata "betapa". Duh Pengasihku, kupanjatkan pada-Mu, siramilah mereka dengan rahmat-Mu, nyamankanlah baring panjangnya, sampaikan fatihahku, karena Engkau lebih tahu wahai Pengasihku, bagaimana ayahku, hingga harus mengetuk dari pintu ke pintu, sana-sini mengepit ayam di ketiaknya, menawarkannya kepada tetangga, demi bekal sekolahku--bagaimana ibuku, sampai rela hilir-mudik keliling kampung, menjual kangkung, menawarkan keripik singkong, menjajakan pete selong. Begitu semangat mereka, dan semangat itulah yang kini terwaris kepada kami. Kakakku kepadaku, dan aku kepada adikku, kami saling mematri kalbu, untuk tetap menggigit tekad ayah ibu, meneruskan sekolah sepeninggal mereka.

Namun amat kusayangkan, jiwa cinta pendidikan tak kudapati pada kerabatku. Tak satu pun dari mereka, yang bisa kami sandari, buat membiayai sekolah kami. Bibi sungkan, nenek lebih lagi. Padahal mereka, luas kebun luas sawahnya, bekarung padi setiap kali panen menglair ke rumahnya, punya perusahaan konfeksi, akan tetapi sekali lagi, mereka tak bisa kuharapkan. Usahlah aku, yang hanya keponakannya--anak-anaknya sendiri pun, 4 orang, sekolahnya sebatas SD. Itu sebabnya, dalam perundingan kelanjutan nasib kami, tentang di mana kami harus tinggal berikutnya, tak punya harapan tinggal bersama bibi.

Karena ngerinya nasib kami, tertimpa musibah nyaris berturut-turut, orang banyak yang simpati. Kabar ini menyebar, dari mulut ke mulut, dari kampung ke kampung, tersiar ke mana-mana. Banyak orang jatuh kasihan, tak terbilang yang mengajak tinggal. Maka kami terpisah. Kakak tinggal di rumah temannya, adik diambil wali kelas SMP-ku, sedang aku sendiri, memilih tinggal di rumah ibu guru, yaitu guruku sewaktu SD dulu. Jangan kira tinggal kami buat bersenang-senang, seperti anak pada umumnya, di masing-masing tempat ini kami harus bekerja, sekedar mencukupi bekal sekolah, dan ongkos perjalanan ke sana. 

Hal yang membuat kami beruntung adalah, sejak SD, aku dan adikku terus-menerus peringkat satu. Karenanya iuran sekolah, bukan lagi urusan kami. Aku mendapatkan beasiswa, begitu pula adikku. Agaknya inilah sebab lain, yang membuat guru-guru kami sayang, dan mau mengambil kami tinggal di rumah mereka.

Namun tak seterusnya mudah. Dari rumah ibu guru SD itu aku kabur karena suatu sebab.

Sebetulnya aku sungkan menceritakan bagian ini, namun demi penuhi rasa penasaran pembaca, baiklah sedikit kusampaikan juga. Wahai pembacaku, jangan kau sangsikan baiknya ibu guru SD-ku itu. Namun tidak suaminya. Seperti kurang beragama, dia sering berbuat kurang ajar padaku. Meski tak sampai terlalu jauh, namun aku khawatir, karena kulihat, gelagatnya semakin hari semakin tak baik, dan itu membuatku ketakutan. Aku semakin tak nyaman tinggal di sana. Aku mencoba sabar, sebab kalau tidak di sini, tak tahu lagi harus tinggal di mana. Tapi akhirnya tak tahan juga. Kuutarakan niatku pada Bu Guru, untuk pulang ke rumah nenek. Mendengar itu, suaminya marah. Dia katakan, aku tak tahu malu, tak tahu membalas budi. Apa maksud dia mengatakan itu, waktu itu kurang kumengerti. Ketika setelah dewasa aku memahaminya, rasanya aku ingin tertawa, menertawakan dia lebih tepatnya: Ada-ada saja akal pria keong racun ini. Karenanya inilah akhirnya rencanaku: Akan akan pergi diam-diam tanpa sepengetahuan mereka. Harus! Harus kubebaskan diri dari sini.

Buku dan pakaian kumasukkan ke dalam karung. Menjelang Maghrib, aku mengendap-ngendap, pergi menyelinap, dan kabur dari rumah itu bersama karat di hati. Karat rasa jijik, untuk tak mau kembali ke sana lagi. Adzan berkumandang di mana-mana, lembayung semakin pekat, terang berganti kelam, sedang perjalananku ke rumah nenekku, masih jauh. Bisa kamu bayangkan, seorang gadis kecil, membawa karung, berjalan penuh ketakutan petang-petang, saat-saat yang menurut para orang tua--waktunya setan-setan berkeliaran. Kalau kamu dalam posisiku saat itu, kira-kiranya apa yang kamu rasakan? Aku sendiri, saat menuturkan cerita ini, genangan air mata mengambang, lalu kedipanku meneteskannya. Aku tahu ribuan orang punya kisah hidup jauh lebih menyedihkan dariku, akan tetapi bagiku sendiri, mengingat episode ini, sungguh tak bisa menahan rasa duka.

Puji untuk Penguasa alam. Dalam suasana malang itu, Dia kirimkan pertolongan untukku. Sebuah delman kosong lewat setibaku di jalan raya. Kusirnya melihatku, menyapaku, dan menanyakan ke mana tujuanku. Kukatakan sebuah nama kampung, dan mendengar itu, dia katakan, ke sana pula dia menuju, mau mengambil makanan kuda. Dia menyuruhku naik, dan sejurus kemudian, aku sudah duduk terguncang-guncang perjalanan delman. Banyak hal yang kusir itu tanyakan, kujawab sekedarnya karena pikiranku, sebenarnya, terus-menerus mengkhawatirkan keselamatanku sendiri. Kusir ini orang baik ternyata, membawaku dengan aman ke kampung nenek, dan setiba di rumah, lega aku rasanya. Sebuah belenggu telah kulepaskan.

Saat kisahku ini kubagikan, seorang teman mengatakan, mengikuti kisahku, rasanya seperti film. Kujawab, begitupun menurutku sendiri, ini seperti sinetron, terus bersambung, dan tak tahu kapan selesainya. Kisah kaburnya aku dari rumah guru SD itu masih kelas 2 SMA, dan aku tak tahu lagi, mesti bagaimana caraku meneruskan sekolah?

Pembacaku sekalian, kisahku belum selesai........
Mudah-mudahan nanti aku, punya luang waktu buat meneruskan.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar