1. Majas Ironi
Adalah sindiran dengan menyembunyikan fakta sebenarnya, dengan menyatakan kebalikan dari fakta tersebut. Misalnya: "Kamu pintar sekali, setiap kali ulangan nilaimu 2". Majas jenis ini terasa lucu bagi pengucapnya, namun belum tentu bagi orang yang menerimanya. Pernah suatu ketika seorang komentator si social media mengomentari tulisan temannya begini: Ceritamu indah sekali, sampai-sampai aku tidak bisa memahaminya. Dan orang yang dikomen protes pada saat lain.
Majas ini sangat menarik diterapkan dalam cerita. Ketika seorang tokoh mau mempermainkan perasaan lawan mainnya, maka majas ironi menarik sekali digunakan. Ambil contoh ucapan seorang pria: "Tak pernah kutemukan orang sebaik kamu, menebar cinta di mana-mana, kepada semua pria!"
2. Sarkasme
Majas jenis ini berupa sindiran langsung dan kasar. Digunakan untuk menunjukkan dahsyatnya sebuah kemarahan. Dalam majas ini, yang digunakan adalah kata-kata cacian, ungkapan merendahkan, menjatuhkan, bahkan bisa jadi, menggunakan kata-kata binatang. "Otakmu memang otak udang". "Kehadiranmu ke rumahku tak beda kecoa, datang cuma buat menyebarkan kotoran."
"Tolong hentikan semua sikap tololmu itu! Atau kepalamu kupecahkan sekarang juga!"
3. Majas Sinisme
Yaitu ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide. Dulu saya sering menggunakan majas ini untuk menyakiti orang lain. Jika menemukan orang angkuh, menunjukkan kelebihannya sendiri dan senang merendahkan orang lain, saya sangat senang membuat sinisme kepadanya. Misalnya, jika ada orang melecehkan agama saya, menyebutkan kekurangannya di sana-sini, maka tanggapan saya kepadanya:
"Oh iya, memang yang terbaik itu konsep buatan kamu. Bagusnya kamu segera mengumumkan diri jadi nabi lah. Dan buat kitab suci dengan aturan menurutmu sendiri, pasti itu menjadi aturan terbaik."
"Wah luar biasa sekali kamu, hidupmu sempurna, tidak mempunyai sedikit pun kekurangan."
Seperti perkataan itu bagus, pujian, akan tetapi kenanya kepada sasaran, itu akan sangat menyakitkan. Itu mengganggu rasa percaya dirinya, sebab ternyata, dirinya tidak sebaik yang saya ucapkan.
4. Majas Satire
Nah, kalau ini gabungan dari tiga macam majas tadi. Ironi, sarkasme, sinisme, semuanya digunakan di sini. Satire biasa digunakan dalam karya sastra yang menyindir kebijakan pemerintah, isu-isu sosial, atau blobroknya sebuah sistem.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar