Postingan Populer

Kamis, 13 Maret 2014

Ujub Penyakit Jahat

Ujub seseorang terhadap dirinya meskipun dalam suatu partikel kecil dapat menyebabkan dia menganggap dirinya besar, lalu melihatnya lebih besar dari orang lain dalam partikel itu, meyakini manfaatnya, dan ia merasa mampu dengan kekuatan dan usahanya sendiri untuk menggunakan potensinya itu kapan saja ia mau, untuk menampakkan kelebihan dan keistimewaannya kepada orang lain.

Pemahaman ini terkadang dianggap sepele oleh sebagian orang. Akan tetapi, bisa dianggap masalah besar bagi orang lain.

Banyak dari kita menyangka bahwa penyakit ujub terhadap diri hanya menimpa orang-orang yang biasa tampil di depan masyarakat (publik), serta orang-orang yang mempunyai banyak kemampuan dan potensi yang tinggi. Pada faktanya, memang benar mereka itu adalah orang-orang yang paling besar kemungkinannya untuk terkena penyakit ini. Akan tetapi, penyakit itu tidak menimpa mereka saja. Karena penyakit itu berusaha mengenai semua orang, dan menungu momen yang tepat untuk bercokol dalam diri siapa pun.

Jika Anda merasa ragu tentang hal ini, maka apa panafsiran Anda terhdap keadaan orang fakir miskin yang tidak dikenal manusia, yang meskipun demikian, dia merasa dirinya besar, bahkan dia melihat kelebihannya dibandingkan orang lain, karena kelebihan-kelebihan yang dia sangka ada dalam dirinya?

Ini adalah penyakit yang jahat! Penyakit yang mengetahui dengan baik jalan ke dalam jiwa manusia. Penyakit ini berusaha untuk memengaruhi manusia dari perbuatan baik yang dilakukannya, baik berupa ucapan atau perbuatan, kemudian berusaha memperbesarnya dan ujub terhadapnya, sambil melupakan Alloh yang memberikan anugerah hal itu.

Ada orang yang bertanya kepada DAwud Ath Thaai, "Apakah Anda pernah melihat seorang yang mendatangi pejabat itu, kemudia ia menyerukan kebaikan kepada mereka dan mencegah mereka dari kemunkaran?"  Dia menjawab, "Saya khawatir ia akan dicambuk oleh pejabat itu." Lalu ada yang berkata, "Ia sanggup menanggung kemungkinan itu." Ia menjawab, "Saya takut ia dibunuh." Kemudian ada lagi yang berkata, "Ia sanggup menanggungnya." Ia berkata, "Saya khawatir ia terkena penyakit yang terpendam, yaitu ujub."

Maka ujub adalah penyakit akal, akal apapun, yang selalu mengajak untuk menganggap besar ucapannya, amalnya, atau pemikirannya, dan memuji dirinya berdasarkan hal itu.

Mengapa Percaya Diri Bisa Menyesatkan?

Mari kita lihat kata dasarnya.

Percaya diri.
Anak SD saja sudah mengerti, percaya diri ya percaya kepada diri.
Percaya kepada kekuatan sendiri, kemampuan sendiri, pengetahuan sendiri.

Sedang dalam agama, kekuatan, kamampuan dan pengetahuan itu, sepenuhnya punya Alloh.
Ada ucapan hauqolah, yang artinya, "Tiada daya, tiada kekuatan, selain dengan Alloh."

Orang yang percaya diri?
Ya dia percayanya kepada diri
Dia percaya, kemampuan dan kekuatan itu ada pada diri
Dia percaya, dia mewujudkan sesuatu, adalah pengetahuannya sendiri

Mengapa Orang Ujub Menyebalkan?

Ibnu Mubarak berkata: "Ujub adalah engkau memandang bahwa ada sesuatu keistimewaan dalam dirimu yang tidak ada dalam diri orang lain."

Misalnya, Anda melihat diri Anda memiliki harta, pengetahuan dan kepandaian lebih dari orang lain.

"Bagaimana jika semua itu benar ada pada diri saya?"
Menjawab bentahan ini, Dr. Majdi Al-Hilali menulis: "Ya, mungkin kita punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Tetapi semua itu milik siapa?.

Alloh berfirman: "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di dalamnya." (Al-Maidah: 120).

Karena semuanya kepunyaan Alloh, berbangga diri dengan apa yang menjadi kepunyaan-Nya menjadi sebuah kekonyolan.
Inilah alasan kenapa seringkali saya mengakui diri sebagai penulis edan, karena kebanyakan tulisan saya, banyak membangga-banggakan diri. Dan menurut saya, kebiasaan ini ciri manusia edan. Itu ciri manusia yang tidak mempunya kesadaran. Dia tidak sadar, apa yang ditangannya itu bukan miliknya. Dan karena tidak sadar, tanpa tahu malu dia membangga-banggakannya.

Sayangnya, hanya sedikit orang menyadari ini. Ketika membanggakan miliknya, dia merasa dirinya normal-normal saja.  Dia mengira, dengan membangga-banggakan diri, orang akan ikut berbangga dengannya. Dia tak tahu, meski ada orang ikut berbangga, sikap bangga mereka hanya pura-pura. Dia buta dari kenyataan bahwa, sikapnya membangga-banggakan diri hanya membuat orang menjadi sebal kepadanya.

Coba, hitung, berapa orang ikut berbangga dengan kebanggaan Anda?

Nyaris tak ada!

Malah yang ada, adalah orang yang sebal kepada Anda
Malah yang ada, orang yang berusaha menjatuhkan Anda
Malah yang ada, orang yang berusaha mengecilkan hati Anda

Yang ada hanyalah orang yang berusaha membuat kebanggaan Anda itu hilang
Yang terjadi hanyalah sikap buruk orang-orang

Kalau sampai terjadi, itu bukan salah mereka!
Itu salah Anda sendiri, memang begitulah balasan orang-orang yang membangga-banggakan diri.

Rabu, 12 Maret 2014

Percaya Diri Itu Menghancurkan

Percaya diri itu menghancurkan!

Itu karena sikap percaya diri seringkali terwujud dalam sikap membanggakan diri. Dan seorang yang terbiasa membanggakan dirinya sendiri, pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Nabi bersabda: "Adapun tiga hal yang menghancurkan, yaitu kikir yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan kagumnya seseorang kepada dirinya sendiri." (HR. Ath-Thayalisi)

Dengan alasan percaya diri, seseorang kadang menceritakan kelebihan dirinya. Dengan alasan percaya diri, seseorang menceritakan kekayaan-kekayaannya. Bukan pada seorang dua orang saya menyaksikan ini. Dia menyebut dirinya seorang percaya diri--dan kelakuan sehari-harinya adalah membangga-banggakan diri. Dia senang sekali menceritakan kelebihan dirinya. Ketika orang lain menyebutkan kesalahannya, dia langsung tak suka dan marah-marah.

Dan buah dari sikapnya itu, selalu dan selalu kehancuran. Misal saya mengenal seorang pemimpin lembaga pendidikan. Di msa-masa jayanya dia seringkali meneriakkn konsep percaya dirinya. Dia banggakan kemampuannya, kepintarannya, dan akhirnya...Anda takkan percaya, orang ini bangkrut pada akhirnya. Sekolahnya bangkrut, dan yayasan memecat dia dari jabatan ketua.

PERCAYAN DIRI, SEBUAH KONSEP JADAH

Percaya diri,
Jika banyak motivator mengajarkan ini, saya anggap wajar!

Mereka sekedar memberi semangat!

Yang jadi masalah mubaligh muslim
Ketika mereka ikut meneriakkannya, ini yang jadi masalah

Percaya diri?
Ajaran dari mana itu?
Tidak jelas asal-usulnya.
Jangan-jangan konsep jadah?

Yang jelas ketika saya buka Al-Qur'an,
Saya baca lho kok di sana tidak diajarkan.
Dalam kitab suci ini malah, percaya diri saya temukan pada jiwa orang-orang durhaka. Semacam Qarun, yang begitu percaya diri mengatakan, kepandaian dan pengetahuannyalah yang membuat dia begitu kaya raya. Sikap percaya diri saya temukan pada Namruz, yang dengan sombong koar-koar bisa menghidupkan dan mematikan. Jiwa percaya diri saya temukan pada raja tolol, bajingan dan keparat, si Fir'aun laknatullah...yang teriak-teriak tak tahu diri: "Akulah tuhan kalian yang maha tinggi." Dan sosok percaya diri saya temukan pada pemilik kebun dalam surat Al-Kahfi, yang dengan percaya diri membangga-banggakan kebunnya, namun akhirnya kebun itu roboh dan hangus.

Sebaliknya para Nabi yang Alloh tampilkan sebagai sosok teladan, saya dapati mereka bukanlah sosok percaya diri. Nabi Ibrahim dalam urusannya senantiasa mengadu kepada Alloh. Ketika dia tempatkan istri dan anaknya pada lembah kering, dia tidak percaya dirinya sanggup memberikan makanan kepada istri dan anak keturunannya. Dia hanya percaya kepada Alloh, maka hanya kepada-Nya dia mengadu: "Ya Tuhanju, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau, baitullah yang dihormati, ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37).

Selasa, 11 Maret 2014

Istriku, Aku Tidak Mencintaimu

Dulu kunikahi kamu, bukan karena aku mencintaimu. 
Kunikahi kamu karena aturan Tuhanku, begitulah cara mendapatkan kehalalanmu

Awal pernikahan, 
Sempat jua kurasakan cinta, namun segera kubuang. 
Karena kemudian sadar, rasa cinta itu akan sangat menyusahkan. 
Dan menyenangkan, sebagaimana aku meyakini itu, akhirnya kamu mengakuinya juga

Bukan sekali dua kali kita bicara
Tentang pentingnya menghilangkan cinta diantara kita

Aku tidak mencintaimu, 
Apapun kulakukan padamu, kulakukan bukan sebab mencintaimu

Aku membersamaimu, lembut padamu, mempergaulimu dengan baik, memberikan nafkah semampuku, itu semua kulakukan, bukan karena aku mencintaimu, melainkan karena, memang itu sudah Alloh wajibkan kepadaku, dan hanya dari-Nya, aku bisa berharap mendapatkan balasan cinta. Sedang jika itu kulakukan karena mencintaimu, kamu akan melihatnya kecil, karena akupun tahu, yang kuberikan itu tidak sebarapa, sedang jika kulakukan atas nama cinta kepada Alloh, maka Alloh akan selalu memberi harga, kepada semua amalan, bagaimana pun kecilnya.

Istriku, takkan pernah kulupakan peristiwa hari libur itu.
Hari itu, aku tidak sengaja mencintaimu
Sungguh itu sebuah ketidaksengajaan
Sungguh itu sebuah kekhilafan
Begitulah, 

Karena aku mencintaimu, hari libur itu kubersihkan lemari. Membersihkan luar dalamnya, membeningkan kaca-kacanya, mengelurkan botol-botol dan toples, membawanya ke kamar mandi dan membasuh debu-debunya. Tak cukup sampai di sana, demi cerianya wajahmu saat pulang nanti, kubersihkan pula sudut-sudut rumah dan merapikannya, dan ketika itulah kutemukan sekeresek ubi jalar. Ubi itu besar-besar, bagus-bagus, yang pastinya akan sangat manis kalau dikukus. Dan kulakukan rencana itu, agar sepulangmu nanti, ubi itu bisa kita nikmati, bersama, sepenuh hati.

Dan kamu tahu sendiri apa yang terjadi?

Dari dalam rumah, kudengar kamu datang dengan teriakan: "Hadduhhhhh!! Ini kenapa ubi malah dikukus!! Tadinya mau aku goreng!"

Aku membersihkan lemari
Membersihkan toples-toples
Membeningkan kaca, membeningkan botol-botol
Membersihkan sudut-sudur rumah
Menyediakan ubi kukus buatmu
Tidak kamu lihat,
Semuanya,
Hilang dari matamu
Yang kamu lihat hanyalah ubi goreng, dalam angan-anganmu
Yang tidak bisa kamu wujudkan.


Tidak mengapa, tak masalah

Karena kejadian itu memperingatkanku pada kesalahanku,
Tidak sengaja mencintaimu.

Demikianlah
Jika rumah tangga ini kujalani dengan cinta padamu,
Selamanya takkan pernah kurasakan kenyamanan. Karena jiwa
Yang bersemayam di badan rapuhku, akan selalu terancam kekecewaan.

Senin, 10 Maret 2014

Buku No Excuse!

Kalau saat ini saya disuruh milih satu buku paling bergizi, maka pilihan saya akan jatuh kepada No Excuse! Sebuah buku laris. Dalam sebulan, terjual lebih dari 50.000 eksemplar.

Pertama, bukunya ada di hadapan saya. Kedua, penulis bukunya sudah banyak ngobrol dengan saya.

Dengan membaca judulnya saja, buku ini sudah terinspirasi. Menurut saya, ini salah satu iri sebuah buku berkualitas bagus. Buku "Sang Pemimpi", dengan membaca judulnya saja, maka orang sudah terinpirasi untuk membuat impian. Atau buku "La Tahzan", maka dengan membaca judulnya saja, orang sudah terilhami supaya jangan bersedih.

Itulah buku No Excuse. Dengan hanya membaca jilidnya, orang sudah mendapatkan sesuatu. 
Dengan hanya membaca jilidnya, orang sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan, mengapa hidupnya selama ini selalu gagal, mengapa susah sekali untuk berhasil?


Excuse! 
Alasan, itulah biang keroknya.

Maka solusinya, langsung buku ini berikan:

No Excuse!

Jangan beralasan! 
Sebab, salah satu ciri orang gagal, dia mencari alasan untuk berhenti
Sedangkan orang berhasil, mereka berhenti mencari alasan


Satu keistimewaan emas dari buku ini adalah, kisah-kisah yang tersaji di dalamnya nyata. Ketika Anda menceritakannya kepada orang lain, Anda tidak akan sungkan, sebab kisah dalam buku ini kisah nyata. Jadi ketika membacanya, Anda membacanya dengan penuh kepercayaan. Terasa beda bukan, atara ketika membaca kisah-kisah nyata dengan kisah yang hanya sekedar kisah rekaan?

Bukannya  merendahkan fiksi. Dalam konteks lain, fiksi bisa lebih unggul. Namun dalam motivasi, kisah nyata justru lebih unggul. Penyajian kisah nyata membuat orang lebih percaya. Dan begitulah karakter buku No Excuse! Pada setiap konsep yang ditawarkannya, buku ini memberikan banyak bukti nyata. Semisal ketika membantah orang gagal dengan alasan tidak berbakat. Penulis mencontohkan anak pemalu dan norak, tapi berkat kerja keras, dia sukses menjadi bintang Pop Legendaris Dunia. Dia Elvis Presley.  Tak berhenti sampai di sana, makin parah Pak Isa terus mencontohkan anak suara jelek kaleng rombeng, si Tompi, tapi akhirnya sukses menjadi ikon Jazz tanah airnya.

Sama ketika membantah alasan lainnya. Alasan terlalu miskin dibantah kisah orang yang sukses dengan kondisi miskinnya. Alasan terlalu muda, penulis bantah dengan kisah kaum muda yang sukses. Dan alasan terlalu tua, juga sama.

Ini buku menarik dan fenomenal. Isinya padat, kaya, mengandung banyak kutipan mutiara berharga! Karena, penulis punya rencana mengembangannya menjadi beberapa bagian aja. Dalam sebuah wawancara santai saya dengan penulis, buku No Excuse ini rencananya, bakal menjadi sebuah buku induk. Dan setiap bab dari buku ini, akan penulis susun menjadi buku tersendiri.

Moga cepet beres!

Hubungan Pria Wanita Tidak Membutuhkan Cinta

(Tulisan ini boleh dibantah)

Menjalin hubungan dengan seseorang, tidak usah nembak. "Eh aku mencintaimu, kamu mau nggak jadi pacar aku?"

Kuno, basi, dan sangat menyebalkan!

Menjalin hubungan, tidak usah menyatakan cinta. Tembak-menembak hanya terjadi di masa perang. Orang yang menembak di masa damai itu namanya penjahat!

Menurut saya. Hubungan dengan wanita itu tidak membutuhkan cinta.

"Bagaimana Bisa?"
"Bisa!"
"Terus, apa menikah tidak membutuhkan cinta?"
"Tidak, menikah itu membutuhkan akad."
"Trus apa tujuannya menikah?"
"Menjalankan syariat agama saja."
"Berarti itu menikah hanya buat menyalurkan syahwat?"
"Memang iya."
"Wah, itu kalau istrinya tahu bisa bahaya tuh."
"Istri saya sudah tahu. Ini sudah saya katakan padanya. Hubungan kita tidak membutuhkan cinta. Karena ketika cinta, justru di sanalah permasalahan tiba. Saat cintai seseorang, maka dia memberi kekecewaan sedikit saha, rasanya itu sangat berlebihan."

Ini karena, cinta yang diucapkan kebanyakan orang itu omong kosong. Ucapan-ucapannya, janji-janjinya itu seringkali seringkali bulshit.

Dan bahkan menurut saya, jika cinta dengan sesungguhnya diberikan kepada seseorang, maka saat itulah, seseorang akan terjebak ke dalam kemusyrikan.

Kenapa? Pertama, ketika seseorang menyatakan cinta, maka orang ini rela menjadi hambanya, mencari ridonya, senang kepada apapun yang disenanginya, dan benci kepada apapun yang dibencinya. Namanya menjadi kenangan di hati, dan apapun yang kita lihat, akan menginspirasi hati kita untuk mengingatnya. Padahal semua itu, hanya layak ditujukan kepada Alloh.

Dengar ucapan seorang pencinta:

"Hatiku milikmu. Di hatiku hanya ada kamu."
"Kulakukan semua ini demi kamu, hanya untukmu!"
"Jiwa raga rela kukorbankan, demi kamu!"

Ini sudah menyalahi akidah.

Hubungan pria wanita tidak membutuhkan cinta.
Terjadinya sakit hati, stress, cemas, cemburu, sedih, menangis, itu terjadi karena seseorang menjalin hubungan pria wanita dengan memakai cinta. Kenapa seseorang membunuh mantan kekasihnya? Karena dulu dia jalin hubungan itu dengan perasaan cinta.

Coba kalau mereka santai-santai saja, bergaul ya bergaul saja. Membangun jiwa hubungan dengan prinsip: Kamu ya kamu, aku ya aku. Aku ngasih sama kamu bukan karena aku cinta kamu, aku memberimu karena aku mencintai dirinya sendiri, untuk bekal akhirat nanti.

Apa yang terjadi ketika putus?

Santai-santai aja kan? Tak ada masalah!

Hubungan pria wanita tidak membutuhkan cinta. Yang dibutuhkan hanyalah pernikahan. Dan seorang pasangan idaman bukanlah pasangan yang memberikan cintanya kepadamu, tapi dia yang memberikan cintanya kepada Pencipta kamu.