Rabu, 05 Maret 2014

Tuhan, Aku Hanya Ingin Hidup 4

Silaturrahmi, silaturrahmi, silaturrahmi...apa salahnya sih silaturrahmi?
Memangnya ada batasan silaturrahmi?
Memangnya jika aku menelpon seorang pria yang dulu pernah mengenalku, ini bukan silaturrahmi?
Ini silaturahmi, begitulah kuluruskan niat, ketika rangkaian nomor pada kartu nama itu hendak kuhubungi.

Waktu itu belum ada HP, satu-satunya pilihan adalah telpon umum. Sepanjang perjalan menuju ke sana, yang ada hanyalah harap. Harapan besar dan kepastian. Pasti dia pun sangat menunggu. Dan aku yakin, bayanganku pasti masih di hatinya. Bagaimana tidak, penampilanku saat pertama kali dia melihatku, adalah penampilan tercantikku, dalam balutan kebaya dan pulasan ahli rias, tentunya bayanganku di benaknya akan sangat membekas. Pun demikianlah suaraku, pada beberapa malam kami berbincang dengannya, otak brocanya pasti merekam suaraku, dengan kuat, dengan baik, yang tentunya suara lembutku, terngiang terus di telinganya. Kuperkirakan, saat dia dengar suaraku, nanti, tanpa harus kukatakan namaku, pasti dia langsung tahu. Karena suara yang didengarnya, adalah suara yang selalu bergema dalam benaknya.

Ah betapa narsisnya.
Namun Kawan. Ini narsis ilmiah! Faktual!

Di ruang telfon umum:
Sambil kupijit satu persatu nomor itu, kusiapkan diri, buat menarima hujan ungkapan kangen darinya.

Kutunggu dia mengangkat
Nah, ini dia: "Halo."
Aku: "Ha..halo..."
"Ini siapa ya?" waduh, kok dia nanya sih.
"Aku"
"Maaf, siapa ya?"
"Aku, masa sudah lupa?"
"Emh, iya aku lupa lagi, boleh tahu namamu?"
"Aku Silva Aa....ini dengan Aa Randi bukan?"
"Iya benar,....Silva.....emh.....Silva......." Menjengkelkan sekali. Bagaimana dia sampai lupa sih.
"Silva Aa, kenalan waktu di pernikahan itu, yang saat itu Aa jadi kateringnya."
"Ooooohhh, iya, iya......aku ingat! Bagaimana kabarmu?"

Huh!

"Baik A. Aa sendiri bagaimana?"
"Baik. Kok, bukannya dulu menghubungiku dilarang?"
"Ini pake telfon umum Aa."
"Wah....tapi kok masih ingat nomor saya?"
"Saya tak sengaja menemukannya Aa, saya coba hubungi lagi."
"Beruntung sekali Silva."
"Beruntung kenapa?"
"Sehari saja kamu terlambat menghubungiku, sudah tak mungkin lagi kita bicara."
"Lho memangnya?"
"Besok aku mau pindah."
"Pindah kerja?"
"Begitulah."
"Ke mana?"
"Aku diterima di pelayaran, emh kapal pesiar! Kamu, masih tinggal di gurumu?"
"Bukan, sekarang aku di kostan."
"Boleh aku ke sana?"
"Wah, ibu kost ketat!"
"Suka pake baju ketat?"
"Dia punya aturan ketat. Pria iseng jangan datangi anak kost di rumahnya."
"Oh, baiklah, jadi di mana aku bisa menemuimu?"
"Di tempat kerja."
"Kamu kerja di mana?"
"Di Bandung Super Mall."
"Lantai berapa, kios apa..bla bla bla......"

Singkat kata, kami sepakat buat bertemu. 

Keesokan harinya
Sambil kurapikan barang dagangan, kutunggu kedatangannya
Satu jam, dua jam, tiga jam, sudah jam sebelas siang, yang kutunggu tak jua datang.
Tepat jam sebelas dua puluh menit, seorang pria datang, wajahnya pucat. Bukan, pria ini bukan dia. Bukan pula kabar gembira yang dibawanya.

"Anda Silva?"
"Iya, kenapa?"
"Kenalanya Randi?"
"Benar, kenapa?"
"Randi di Rumah Sakit."
"Kenapa?"
"Bus menghantam motornya."

Kaget luar biasa, tanpa tunda lagi, aku lapor ke bagian pengawas, minta ijin.

Bersama pria itu, aku pergi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Pria itu berjalan cepat, di belakang, aku mengikutinya. Tergesa-gesa. Kami datangi Instalasi Gawat Darurat, namun saat menuju sebuah kamar, seorang suster menegur, memberi tahu kami sesuatu, lalu mempersilahkan kami datang ke instalasi perawatan jenazah.

Hari mendung, gerimis mulai turun, halilintar saling berkejar. Doa baru saja usai, orang-orang mulai pulang. Tinggal aku, bersama keranjang. Bunganya kutabur-tabur, pandangan mataku kabur. Air mata menggenang. Lemah persedian terasa. Jongkok tak terasa. Aku kehilangan sesepramh. Seseorang yang tak pernah kumiliki. Aku tidak percaya. Sungguh aku tidak percaya.

Apakah Anda percaya?

Jangan percaya. Sebab sebenarnya, crita kecelakaan Randi itu fiktif. Alhamdulillah dia datang ke tempatku kerja. Kami ngobrol, namun singkat-singkat. Lagi-lagi tersita kesibukan kerja. Akhirnya, kami hanya saling bertukar alamat.

Ketika dia akhirnya pergi berlayar, ibunya sering menyambangi penginapanku, menjengukku, menanyakan kesehatan, mengirimkan makanan, bahkan seringkali, begitu saja memberiku uang. Dia orang berada, baik luar biasa, dan kemudian, setelah keluarga Randi tahu siapa aku, bersama keluargaku, kampungku, dan segala asal-usulku, mereka restui kami menikah, dalam sebuah resepsi sederhana, alakadarnya.

Baik mertua, bukan baik sementara. Dulu dan kini sama tetap sama. Malah semakin bertambah, setelah hadir dua cucunya. Pahit getir hidupku, kini terbayar hidup senang. Dari sisi materi, aku hidup berkecukupan.

Ketika kuselesaikan kisah ini, aku, sang tokoh utamai, sedang tak sabar, menunggu suami pulang.

(Tamat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar