Rabu, 12 Maret 2014

Percaya Diri Itu Menghancurkan

Percaya diri itu menghancurkan!

Itu karena sikap percaya diri seringkali terwujud dalam sikap membanggakan diri. Dan seorang yang terbiasa membanggakan dirinya sendiri, pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Nabi bersabda: "Adapun tiga hal yang menghancurkan, yaitu kikir yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan kagumnya seseorang kepada dirinya sendiri." (HR. Ath-Thayalisi)

Dengan alasan percaya diri, seseorang kadang menceritakan kelebihan dirinya. Dengan alasan percaya diri, seseorang menceritakan kekayaan-kekayaannya. Bukan pada seorang dua orang saya menyaksikan ini. Dia menyebut dirinya seorang percaya diri--dan kelakuan sehari-harinya adalah membangga-banggakan diri. Dia senang sekali menceritakan kelebihan dirinya. Ketika orang lain menyebutkan kesalahannya, dia langsung tak suka dan marah-marah.

Dan buah dari sikapnya itu, selalu dan selalu kehancuran. Misal saya mengenal seorang pemimpin lembaga pendidikan. Di msa-masa jayanya dia seringkali meneriakkn konsep percaya dirinya. Dia banggakan kemampuannya, kepintarannya, dan akhirnya...Anda takkan percaya, orang ini bangkrut pada akhirnya. Sekolahnya bangkrut, dan yayasan memecat dia dari jabatan ketua.

PERCAYAN DIRI, SEBUAH KONSEP JADAH

Percaya diri,
Jika banyak motivator mengajarkan ini, saya anggap wajar!

Mereka sekedar memberi semangat!

Yang jadi masalah mubaligh muslim
Ketika mereka ikut meneriakkannya, ini yang jadi masalah

Percaya diri?
Ajaran dari mana itu?
Tidak jelas asal-usulnya.
Jangan-jangan konsep jadah?

Yang jelas ketika saya buka Al-Qur'an,
Saya baca lho kok di sana tidak diajarkan.
Dalam kitab suci ini malah, percaya diri saya temukan pada jiwa orang-orang durhaka. Semacam Qarun, yang begitu percaya diri mengatakan, kepandaian dan pengetahuannyalah yang membuat dia begitu kaya raya. Sikap percaya diri saya temukan pada Namruz, yang dengan sombong koar-koar bisa menghidupkan dan mematikan. Jiwa percaya diri saya temukan pada raja tolol, bajingan dan keparat, si Fir'aun laknatullah...yang teriak-teriak tak tahu diri: "Akulah tuhan kalian yang maha tinggi." Dan sosok percaya diri saya temukan pada pemilik kebun dalam surat Al-Kahfi, yang dengan percaya diri membangga-banggakan kebunnya, namun akhirnya kebun itu roboh dan hangus.

Sebaliknya para Nabi yang Alloh tampilkan sebagai sosok teladan, saya dapati mereka bukanlah sosok percaya diri. Nabi Ibrahim dalam urusannya senantiasa mengadu kepada Alloh. Ketika dia tempatkan istri dan anaknya pada lembah kering, dia tidak percaya dirinya sanggup memberikan makanan kepada istri dan anak keturunannya. Dia hanya percaya kepada Alloh, maka hanya kepada-Nya dia mengadu: "Ya Tuhanju, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau, baitullah yang dihormati, ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar