Masuk ruangan workshop, dominan nuansa merah. Kursi merah, lantai merah. Kursi-kursi itu tertata rapi, pada wahana bertangga-tangga. Ruangan begitu simpel, nyaman sekali buat acara. Flamboyan, itulah nama cantiknya. Memang benar-benar flamboyan: mungil, tapi mewah....
Di sudut sana, pada kursi paling depan, duduk seorang pria berkecamata. Segar sehat badannya, putih bersih wajahnya, tanpa mau menunda, saya langsung menghampirinya, mencium tangannya, dan dengan hati-hati, mengajaknya bicara.
"Pak Agung, bagaimana sehat?"
"Alhamdulillah."
"Pak, buku GGI itu sengaja ditulis buat humor? Bacanya buat saya tertawa-tawa."
"Iya memang itu buku sengaja dibuat lengkap, humornya ada, tragedinya ada, sejarahnya ada, motivasinya pun ada."
Saya lupa percakapkan kami berikutnya apa. Yang jelas, Pak Agung menceritakan, pengalaman orang lain yang membaca bukunya tidak jauh beda dengan saya, banyak tertawa-tawa. Saya katakan langsung pada Pak Agung, sampai sekarang belum mau menamatkannya. Sudah dekat ke halaman akhir, sengaja saya tunda, tak mau buku itu cepat habis.
Seterusnya, saya lebih banyak diam, tak juga banyak tanya, khwatir merusak suasana.
Pak Agung bukan orang biasa, dia banyak ilmu. Kami tidak selevel. Ngobrol banyak padanya, takut buat dia kehilangan selera.
Di tempat ini, dari tadi pak Agung duduk menyendiri. Bisa jadi sedang nunggu wangsit, buat ide buku terbarunya. Jadi, saya hanya menunggunya bicara. Dan dia diam saja.
Wajah Pak Agung ini masih sangat muda. Segar, sangat berbeda dengan wajah facebooknya. Bukannya kurang ajar, ini jujur saja, saya katakan, foto Pak Agung pada facebook kesannya dewasa. Terlebih pada cover bukunya. Khas wajah para petinggi negeri kita Namun kenyataannya beda, pas saya bertemu langsung dengannya, wajahnya masih tampak muda, mirip-mirip wajah para guru pesantren, yang kesehariannya bergelut kitab dan pena.
Lama kami terdiam
Membuat saya kemaluan sendiri.
Emh maksudnya, saya jadi malu sendiri.
Pindah ke kursi lain, ke sebelah atas sana, ke dekat si manis, Richie.
* * *
Malam setelah workshop, saya bermalam di rumah penerbitan Pak Isa. Semalaman online, paginya online lagi. Bakwa shubuh sampai siang, hingga tak terasa, sudah masuk jam kerja. Saya online di lantai 3, lalu dari arah tangga, muncul sang tokoh utama:
"Eh Dana, maaf nih saya terlambat!"
"Eh Dana, maaf nih saya terlambat!"
"Kenapa terlambat Pak? Pak Agung harusnya tepat waktu!" Bentak saya.
"Jalanan macet Dan!"
"No Excuse! Yang namanya terlambat ya terlambat! Sebagai hukuman, silahkan Bapak berdiri satu jam di sudut sana!"
"Tidak ada pilihan lain Dan?"
"Tidak ada. Pelanggar sudah seharusnya dihukum!"
"Bagaimana kalau saya bayar 400 rebu. Kamu mau? Saya banyak tugas, mau langsung kerja!"
"Bagaimana kalau saya bayar 400 rebu. Kamu mau? Saya banyak tugas, mau langsung kerja!"
"500 ribu saya mau!"
"Adanya 400 ribu."
"Ya tidak mengapa. Mana. Sini!"
Pak Agung menyerahkan uangnya.
Haha, sekedar canda. Andai saya berani begitu, mungkin Pak Agung langsung telfon: "Pak Isa, maaf ini Dana belum diberi obat Pak!"
Siangnya dia mengajak makan. Lagi-lagi saya hanya terdiam. Bingung.
"Makan dulu atau sholat dulu nih?" tanyanya.
Saya diam.
Armiadi dan Alie Isfah memberi pandangan.
Makan dulu atau solat dulu?
Makan dulu, ingat solat waktu makan
Solah dulu berarti ingat makan waktu sholat
Lebih baik ingat solat waktu makan dari pada ingat makan waktu sholat.
Solah dulu berarti ingat makan waktu sholat
Lebih baik ingat solat waktu makan dari pada ingat makan waktu sholat.
Okelah Ayo!
Pak Agung keluar. Bersama Alies Isfah dan Armiadi Asamat, saya membuntut.
Pak Agung keluar. Bersama Alies Isfah dan Armiadi Asamat, saya membuntut.
Menuju bawah Gedung Depok Mall. Sampai sana mata saya liarr. Ruang bawah tanah itu ternyata punya super market. Punya restaurant-nya juga. Beberapa orang, tampak makan di sana.
Oh baik nian hati Pak Agung. Akan membawa kami ke sana. Di samping mall itu, perlahan kami melangkah, sambil mata saya, berkali-kali mencuri pandang, ke dalam restaurant, melihat orang orang. Tampaknya mereka, sedang menikmati ayam, daging panggang, stik kentang. Terus melangkah, melangkah, dan melangkah, saya heran, kenapa jalan Pak Agung lurus. Terus melangkah, saya makin heran, ini semakin jauh dari pintu muka.
Mungkin Pak Agung mau lewat belakang, untuk mendapat harga murah.
Ternyata tidak. Langkah Pak Agung menjauhi mall....hingga tiba ke depan mesjid.
Jadi?
Jadi pak Agung mau sholat dulu?
Waduh.
Saya tak bawa sarung.
Ini celana, sudah dua hari belum ganti.
Ini satu-satunya celana yang saya bawa, sudah pesing. Terpaksa kembali pulang, ke rumah penerbitan, bersalin, bersuci, kembali ke mesjid, Pak Agung dan kawan-kawan sudah tak ada, Entah ke mana mereka.
Ini satu-satunya celana yang saya bawa, sudah pesing. Terpaksa kembali pulang, ke rumah penerbitan, bersalin, bersuci, kembali ke mesjid, Pak Agung dan kawan-kawan sudah tak ada, Entah ke mana mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar