Kamis, 06 Maret 2014

Siasat Brengsek Program Membaca Cepat

Membaca itu tidak harus banyak, sedikit sedikit saja, tapi kontinyu, terus-menerus. Yang sedikit itu direnungkan, ditafsirkan, dan diterangkan menurut pengalamanmu sendiri, dan dengan pengetahuan yang sudah ada pada otakmu. Prinsipnya kurang lebih sama dengan prinsip pertumbuhan pohon, sedikit demi sedikit namun terus menerus, dan dengan cara itulah pohon membangun dirinya menjadi kuat, kokoh berdiri, dan berumur hingga ratusan tahun.

Membaca seharusnya dikunyah, dinikmati, dirasakan, direnungkan, dikontemplasikan ke dalam pikiran. Setidaknya, pesan itu yang saya tangkap dari sampul buku Pak Hernowo: "Andai Buku itu Sepotong Pizza". Itulah mengapa buku-buku selalu disertai pembatas atau petunjuk, agar setelah membaca beberapa halaman saja, kita bisa menyimpan ciri, karena kita, mau menyempatkan diri, mengambil manfaat dulu dari apa yang kita baca.

Berbicara tentang pembatas buku, saya jadi teringat dengan stabilo. Muraah kok, paling mahal lima ribuan. Beli saja. Itu sangat membantu Anda memberikan ciri, di mana batas membaca Anda. Stabilo juga manfaat buat memberikan ciri bagian mana saja yang penting, kata-kata mana yang berkesan, mene kesimpulan, dan ketika menemukan bagian yang tidak Anda mengerti, Anda bisa membubuhinya dengan tanda tanya.

Selain stabilo, Anda juga bisa melibatkan balpoin. Yang dengannya Anda bisa curat-coret, memberikan catatan di samping halaman: opini Anda sendiri, kutipan-kutipan yang sudah ANda hafal, atau mungkin, inspirasi yang muncul tiba-tiba ketika membaca buku itu.

Saya tertarik dengan program Slow Reading yang dipublikasikan Carl Honore dalam bukunya "In Praise of Slow". Program ini mengedepankan kebiasaan membaca sambil menikmati kata perkata, kalimat perkalimat, dan meresapkannya ke dalam jiwa. Membaca dengan menikmati seperti ini membuat kegiatan membaca bukan lagi menjadi beban, tapi menjadi kesenangan.

Waktu kecil, saya punya seorang teman. Kalau dia punya makanan, gigitnya sedikit-sedikit. Kami suka melecehkan dia dan mentertawakannya. Karena bagi kami, kebiasaannya itu sangat janggal. Setelah saya besar, banyak membaca buku, dari berbagai negara, dan mengkaji berbagai budaya, ternyata kebiasaan makan seperti itu bagus. Teman saya itu telah mengamalkan sebuah budaya hebat dunia, di mana budaya makan yang baik adalah makan dengan santai dan sedikit-sedikit. Menurut kesehatan, memakan banyak makanan mengandung kolesterol itu berbahaya buat kesehatan, namun banyak orang Prancis punya kebiasaan ini, badannya baik-baik saja. Ketika diteliti, ternyata itu terjadi karena orang-orang Prancis punya kebiasaan makan santai dan sedikit-sedikit. Sebagai orang Muslim, seharusnya saya tidak heran dengan masalah ini, karena makan sedikit dengan perlahan itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah, Muhammad SAW.

Dari dunia makanan saya akan membawa prinsip ini ke dunia bacaan. Untuk bacaan-bacaan tertentu, terutama bacaan-bacaan berkualitas, berbobot, dan mengandung banyak renungan, membaca lambat sangat dianjurkan. Membaca sedikit demi sedikit sambil menikmatinya, merenungkannya, dan membuat catatan-catatan kecil darinya saya kira ini, ini akan membuat kegiatan membaca, lebih mengesankan daripada membaca cepat. Membaca lambat dengan menikmati, akan membuat kita takut, tak mau segera menemuikan halam terakhirnya.

Beberapa tahun lalu, pemerintah mengembangkan program membaca cepat, melalui kurikulum dalam bidang studi di sekolah-sekolah, dan memberi kesan seakan, membaca itu harus cepat. Jika tidak cepat tidak bagus. Membaca cepat harus dilatih, dan harus menjadi keterampilan setiap siswa. Akan tetapi membaca cepat tidak selamanya baik. Untuk bacaan-bacaan tertentu yang membutuhkan renungan dan pemikiran yang dalam, membaca cepat bisa jadi masalah, mengacaukan pengertian, dan membuat salah faham.

Saya pernah mendiskusikan ini bersama seorang kutu buku.Di Facebook, dia menamai dirinya Revo Samantha. Saya tanyakan padanya, lebih baik mana, membaca cepat atau membaca lambat. Dia jawab, membaca lambar, berusaha mendalami pengertian setiap kalimat, dan mengambil pengetahuan darinya. Dalam diskusi itu, dengan seenaknya kami berpendapat, bahwa membaca cepat ini, hanya siasat licik para pebisnis. Supaya buku dan konsep mereka laris, dibuatlah strategi, dengan meluncurkan program pentingnya membaca cepat. Dengan cara itu, orang berdesakan membeli, melatih dan memaksakan diri menguasai program-program mereka.

Kurang lebih sama, dengan siasat brengsek berubah-ubahnya jenis kurikulum sekolah. Dulu ada CBSA, ganti menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi, setelah itu muncul Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, belakangan muncul lagi Kurikulum Berbasis Karakter, dan entah kurikulum jenis apalagi yang akan diluncurkan ke depannya. Mengikuti jaman edan, mungkin saja, nanti muncul Kurikulum Berbasis Nafsu Syahwat, lama-lama muncul juga Kurikulum Satuan Ahli Korupsi. Akibat terus berubahanya kurikulum itu, siswa terpaksa harus membeli lagi buku baru, sedangkan buku bekas kakak kelasnya tidak bisa dipakai lagi. Bagi orang mampu mungkin saja bukan masalah, apesnya bagi yang tidak mampu, padahal buat SPP bulanan saja, si bapak harus peras darah banting nyawa. Buruk sangka saya berkata, peluncuran program-program itu hanya, siasat saja supaya buku-buku dan LKS mereka laku terjual.

Separah siasat brengsek ganti-ganti kurikulum, separah itulah saya kira siasat brengsek program membaca cepat. Ah, ini sih pikiran penulis edan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar