Di pesantren-pesantren besar, ada semacam kebanggaan, jika seorang santri dinikahkan dengan putri kiai, maka itu menjadi pertanda, santri itu setidaknya, berbeda dari santri lainnya. Begitu juga santri putri, akan sangat bangga luar biasa, ketika dewan kiai pesantren tempatnya belajar, mengambil dia jadi menantunya.
Itulah yang kini sangat diharapkan Comring. Setidaknya dengan begitu, dia bisa lebih terhormat dari teman-temannya. Takkan lagi mereka melecehkannya, seperti sekarang dengan sebuat Si Comring.
Nama aslinya Cinta Amalia. Hanya sejak temanya tahu dia suka Comring, panggilan itu melekat kuat padanya. Tiada hari tanpa comring. Sebelum belajar setelah belajar, pagi, siang, malam, jajanannya terus comring. Comring itu singkatan dari oncom garing, semacam keripik terbuat dari oncom, ditempelkan pada parutan singkong, yang digoreng sampai kering. Anak lain pun banyak yang suka, hanya tidak separah Cinta. Cinta tak suka, tapi apa daya, kadung semua anak memanggilnya begitu, dan dia sendiri pun, tak sanggup seharis saja tidak jajan combring, panggilan itu diterimanya. Dan kini menurutnya, tiada cara lain, buat melepaskan diri dari panggilan rendah itu, selain menjadi menantu Kiai. Gelarnya pasti nanti berubah, menjadi Ibu Ustadzah.
"Adipati Dolken" ucap Dati.
"Bukan, dia mirip Nicolas Shaputra!" Sanggah Siti.
"Betul, mirip Nicolas, sepertinya dia naksir aku." Evi tak mau kalah.
"Huh, mana buktinya?" tantang Dati.
"Buktinya kemarin, di warung, dia memanggilku dengan sebutan Neng" jawab Evi
"Buktinya kemarin, di warung, dia memanggilku dengan sebutan Neng" jawab Evi
"Emang dia ngomong apa?"
"Neng, tolong ambilin kerupuk, gitu kataya. Kalau pria suka, biasanya manggil Neng...."
Blekkkkk!!!!! Pintu lemari di banting. "Jangan ngarep! Jangan ngarep!" Kata Comring sambi ngeloyor keluar.
Comring sebel. Dia tak suka temannya membicarakan Azwar. Menurutnya, yang pantas buat Azwar hanya dia. Harapannya itu membesar karena kebiasaan Bu Kiai memintanya menyertai ngaji. Dari kampung ke kampung, dari desa ke desa, Bu Ustadz selalu mengajak Comring. Bu Ustadz membutuhkannya buat angkut-angkut kardus. Karena sepulang ngaji sudah biasa mendapatkan banyak makanan. Dan satu-satunya wanita tinggi besar bertenaga kuat hanyalah Comring. Itulah alasan bu Ustadz selalu mengajaknya.
Dan tak cukup hanya itu. Sepulang pengajian, Comring juga suka ditahannya di rumah. Bu Kiai suka dengan pijitannya. Tidak seperti tangan santri lainnya, yang letoy--menurut Bu Kiai tangan Comring kekar, jadi jika memijit, efeknya sangat terasa. Suatu hari Azwar mau pindah kamar, dan Comring sedang di rumahnya, langsung saja nyuruh dia. Sendirian Comring memanggul memiringkan lemari, kemudian menggendong di punggungnya, membawanya ke luar kamar, dan memindahkannya ke kamar depan. Saat itulah Azwar terpana, tak berkedip takjub melihat kekuatan Comring, dan Comring menyadari pandangan putra kiai ini, yang membuatnya semakin yakin, takkan kepada siapa-siapa--jabatan menantu, pasti Bu Kiai berikan kepadanya.
Maka semakin sering Comring membantu Bu Kiai--mengantarnya, memijitkan punggungnya, membantunya ini-itu, semakin Comring berpikir, semua yang dilakukannya adalah tabungan kebaikannya untuk Bu Kiai, yang nanti akan dia buka, berupa Azwar, suami ganteng nan pinter.
Azwar memang pinter bukan main, mungkin memang sudah begitu adatnya putra kiai. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ilmu bapaknya mantap, anaknya pun tak jauh beda. Setiap kali menyapukan rumah Bu Kiai, mata Comring selalu terpana kepada barisan piala, dan semua piala itu tanda nyata, jika pria yang diharapkannya bukan pria biasa--pria dengan segudang prestasi: Juara 1 Lomba Baca Kitab, Juara 1 Tahfidzul Qur'an, Juara 1 Syarhil Qur'an, dan pandangannya tertegun ketika sampai kepada foto sebuah foto Wisuda. Tertera pada foto itu sederet nama: Muhammad Azhar Nasirudin, SH. Ah, calon suamiku.
Tahun berlalu tak terasa, akhirnya Comring menyelesaikan Ma'had Ali, kelas tertinggi di pesantren ini. Dalam pesta wisuda, senyumanya mengembang di tengah barisan temannya. Berjalan perlahan naik panggung, untuk mendapat kalungan medali. Penuh bangga berfoto-foto, bersama ibunya, bersama Bu Kiai, dan ketika hendak meminta foto bersama Azwar, lidahnya menjadi kaku, tak sanggup bicara, akhirnya, dia hanya bisa kembali ke kursi, duduk tertegun.
Sore harinya, di asrama:
"Comring, Bu Kiai memanggil," Seru Evi yang muncul di pintu.
"Oh, baik!" sahut Comring. Cepat memakai kerudungnya.
"Eh, tunggu Comring. Bu Kiai berpesan, kamu pakai baju bagusmu, di sana banyak tamu."
"Jangan bohong kamu Vi!"
"Potong telingaku!"
Comring membuka lemari. Mencari baju bagusnya. Tak ada. Melihat ke ke kapstok, baju terbaiknya menggantung di sana, bekas tadi pagi acara wisuda. Segera dia pakai. Bercermin. Meratakan kusutnya, memulaskan sedikit bedak ke wajahnya, merapikan jilbabnya, dan sepanjang perjanan menuju rumah Bu Kiai, hatinya bertanya-tanya, tamu dari manakah. Bisa dipastikannya, Bu Kiai mau menyuruhnya sodor-sodor air dan menyajikan kue-kue. Tiba di halaman, Comring heran. Sandal-sandal bagus berbaris. Bukan sandal anak muda, itu sandal ibu-ibu dan bapak-bapak.
Mengerti dirinya harus segera ke dapur, Comring berjalan ke samping rumah, namun dari depan, terdengar seseorang menyeru: "Nak Cinta, sini!"
Cinta alias Comring mengurungkan langkahnya, mundur, dan belok ke depan. Tampak Bu Kiai berdiri di teras. "Sini Masuk!" Bu Kiai mengulang.
Comring nurut, berjalan memasuki rumah. Karpet telah tergelar, toples kue telah terhampar, di kelilingi para tamu. Seperti dugaannya, para tamu itu rata-rata orang tua. Bapak-bapak dan ibu-ibu. Comring yang malu, hendak berjalan ke sudut, mau duduk di sana, namun Bu Kiai kembali memanggil.
"Nak, Cinta Sini, duduk di samping Ibu!"
Jantung Comring gemuruh. Ada apa ini sebenarnya? Mau apa dirinya dipanggil? Untuk acara sepentinga apa, dan sepenting apa dirinya untuk acara ini?
Dirinya yang hanya seorang santriwati tak pernah sekalipun dipanggil Bu Kiai untuk acara sepenting ini. Meski dipanggil, paling buat mengangkut makanan, dus minuman gelas, dan berbagai pekerjaan di dapur. Dipanggil masuk seperti ini, diminta duduk di tengah-tengah tamu, di samping Bu Kiai, sungguh baru kali ini.
Anggun sekali jalannya, perlahan sekali duduknya. Di samping Bu Kiai, wajah Comring tepekur menunduk.
Terdengar Pak Kiai berdeham, kemudian, setelah salam, basmalah, dan hamdalah, dia mulai bicara:
"Atas nama keluarga, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak semua, jauh-jauh dari kampung Sukarusuh............"
Mendengar nama kampunga disebut, Comring kaget. Dia angkat wajahnya. Hah, para tetangga? Dan belum juga kaget yang satu habis, datang lagi kaget lainnya, ketika Pak Kiai bicara...
"Terutama terima kasih kepada Pak Dodo dan Bu Dodo, selaku orang tua Nak Cinta Amalia. Sungguh terima kasih tiada terhingga....."
Hah, ibu dan bapak? Mau apa mereka? Buat apa mereka dipanggil? Mungkinkah? Benarkah?
Oh tidak! Tidak, tidak mungkin!
Tapi mengapa orang tuaku? Mengapa para tetanggaku, mengapa tidak yang lainnya?
Untuk apa? Buat apa? Apa tujuannya? Apa tujuan Pak Kiai memanggil mereka?
"Tak lain tak bukan, Bapak Ibu semua kami undang, supaya Bapak dan Ibu, memberikan do'a restu dan......." Ucapak Pak Kiai terhenti, karena tiba-tiba, Comring menyungkurkan wajahnya ke karpet, menangis tersedu-sedu. Gembira tiada terkira, batinnya teriak-teriak:"Akhirnya sampai juga, akhirnya tercapai juga. Tidak terbuang semua kelelahanku, jenuhku memijit Bu Kiai, beratku membantu beban-beban, dan apapun yang kulakukan untuknya, sungguh tidak sia-sia. Yang kuharapkan sejak lama, kini kesampaian juga. Mungkin memang beginilah hidup, akan senantiasa adil, bagi orang yang meminta keadilan, dan aku telah bekerja, dan aku telah berusaha, dan inilah hasil usahaku. Tabungan kebaikanku pada Bu Kiai, kini segera terbalaskan...."
Semula orang membiarkan saja tingkah Comring, namun karena menangisnya lama, Bu Kiai segera membangunkannya. "Kamu kenapa Nak?"
Comring telah duduk, tapi sedu-sedannya belum habis.
"Nak, kamu kenapa?"
"Cinta sangat bahagia Bu, terima kasih Bu!" Comring masih terisak.
"Oh, kamu memang anak Ibu." Ucap Bu Kiai, yang entah kenapa, membuat tangis Comring semakin menjadi, mengambil tanggan Bu Kiai dan menciuminya.
"Terima kasih Bu, terima kasih sekali," Sambil terus tersedu-sedu. Bu Kiai heran mengusap-usap punggung Comring. "Sudahlah Nak, ibu mengerti! Tahan dulu tangismu, Pak Kiai mau bicara."
Tangis Comring reda. Sambil membetulkan duduknya, Comring mengusap-usap mata.
"Silahkan Pak, teruskan!" Ucap Bu Kiai kepada suaminya.
"Baiklah. Mohon maaf Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Begitulah Nak Cinta memang, sudah kami anggap bagian dari keluarga kami, dan dia pun sudah menganggap, keluarga kami bagian darinya. Karenanya kebahagiaan kami, menjadi kebahagiaannnya juga. Baiklah saya ulangi lagi, saya atas nama keluarga di sini, sengaja mengumpulkan Bapak dan Ibu, juga sengaja mengundang Pak Dodo dan Ibu ke sini, untuk kami minta doa restu, dan dukungan semuanya untuk anak kami, Muhammad Azwar Nasiruddin, SH, dalam pemilu Bulan April nanti. Bapak ibu semua mohon kerelaannya untuk menjadi tim sukses bagi anak kami, dan Anda Nak cinta, kami percayakan ketua tim Sukses desa Sukarusuh kepada Nak Cinta dibantu orang tua Nak Cinta."
Haha.
Tamat, sodarah, sodarah.....
Begitulah nasib Si Comring.
Sore harinya, di asrama:
"Comring, Bu Kiai memanggil," Seru Evi yang muncul di pintu.
"Oh, baik!" sahut Comring. Cepat memakai kerudungnya.
"Eh, tunggu Comring. Bu Kiai berpesan, kamu pakai baju bagusmu, di sana banyak tamu."
"Jangan bohong kamu Vi!"
"Potong telingaku!"
Comring membuka lemari. Mencari baju bagusnya. Tak ada. Melihat ke ke kapstok, baju terbaiknya menggantung di sana, bekas tadi pagi acara wisuda. Segera dia pakai. Bercermin. Meratakan kusutnya, memulaskan sedikit bedak ke wajahnya, merapikan jilbabnya, dan sepanjang perjanan menuju rumah Bu Kiai, hatinya bertanya-tanya, tamu dari manakah. Bisa dipastikannya, Bu Kiai mau menyuruhnya sodor-sodor air dan menyajikan kue-kue. Tiba di halaman, Comring heran. Sandal-sandal bagus berbaris. Bukan sandal anak muda, itu sandal ibu-ibu dan bapak-bapak.
Mengerti dirinya harus segera ke dapur, Comring berjalan ke samping rumah, namun dari depan, terdengar seseorang menyeru: "Nak Cinta, sini!"
Cinta alias Comring mengurungkan langkahnya, mundur, dan belok ke depan. Tampak Bu Kiai berdiri di teras. "Sini Masuk!" Bu Kiai mengulang.
Comring nurut, berjalan memasuki rumah. Karpet telah tergelar, toples kue telah terhampar, di kelilingi para tamu. Seperti dugaannya, para tamu itu rata-rata orang tua. Bapak-bapak dan ibu-ibu. Comring yang malu, hendak berjalan ke sudut, mau duduk di sana, namun Bu Kiai kembali memanggil.
"Nak, Cinta Sini, duduk di samping Ibu!"
Jantung Comring gemuruh. Ada apa ini sebenarnya? Mau apa dirinya dipanggil? Untuk acara sepentinga apa, dan sepenting apa dirinya untuk acara ini?
Dirinya yang hanya seorang santriwati tak pernah sekalipun dipanggil Bu Kiai untuk acara sepenting ini. Meski dipanggil, paling buat mengangkut makanan, dus minuman gelas, dan berbagai pekerjaan di dapur. Dipanggil masuk seperti ini, diminta duduk di tengah-tengah tamu, di samping Bu Kiai, sungguh baru kali ini.
Anggun sekali jalannya, perlahan sekali duduknya. Di samping Bu Kiai, wajah Comring tepekur menunduk.
Terdengar Pak Kiai berdeham, kemudian, setelah salam, basmalah, dan hamdalah, dia mulai bicara:
"Atas nama keluarga, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak semua, jauh-jauh dari kampung Sukarusuh............"
Mendengar nama kampunga disebut, Comring kaget. Dia angkat wajahnya. Hah, para tetangga? Dan belum juga kaget yang satu habis, datang lagi kaget lainnya, ketika Pak Kiai bicara...
"Terutama terima kasih kepada Pak Dodo dan Bu Dodo, selaku orang tua Nak Cinta Amalia. Sungguh terima kasih tiada terhingga....."
Hah, ibu dan bapak? Mau apa mereka? Buat apa mereka dipanggil? Mungkinkah? Benarkah?
Oh tidak! Tidak, tidak mungkin!
Tapi mengapa orang tuaku? Mengapa para tetanggaku, mengapa tidak yang lainnya?
Untuk apa? Buat apa? Apa tujuannya? Apa tujuan Pak Kiai memanggil mereka?
"Tak lain tak bukan, Bapak Ibu semua kami undang, supaya Bapak dan Ibu, memberikan do'a restu dan......." Ucapak Pak Kiai terhenti, karena tiba-tiba, Comring menyungkurkan wajahnya ke karpet, menangis tersedu-sedu. Gembira tiada terkira, batinnya teriak-teriak:"Akhirnya sampai juga, akhirnya tercapai juga. Tidak terbuang semua kelelahanku, jenuhku memijit Bu Kiai, beratku membantu beban-beban, dan apapun yang kulakukan untuknya, sungguh tidak sia-sia. Yang kuharapkan sejak lama, kini kesampaian juga. Mungkin memang beginilah hidup, akan senantiasa adil, bagi orang yang meminta keadilan, dan aku telah bekerja, dan aku telah berusaha, dan inilah hasil usahaku. Tabungan kebaikanku pada Bu Kiai, kini segera terbalaskan...."
Semula orang membiarkan saja tingkah Comring, namun karena menangisnya lama, Bu Kiai segera membangunkannya. "Kamu kenapa Nak?"
Comring telah duduk, tapi sedu-sedannya belum habis.
"Nak, kamu kenapa?"
"Cinta sangat bahagia Bu, terima kasih Bu!" Comring masih terisak.
"Oh, kamu memang anak Ibu." Ucap Bu Kiai, yang entah kenapa, membuat tangis Comring semakin menjadi, mengambil tanggan Bu Kiai dan menciuminya.
"Terima kasih Bu, terima kasih sekali," Sambil terus tersedu-sedu. Bu Kiai heran mengusap-usap punggung Comring. "Sudahlah Nak, ibu mengerti! Tahan dulu tangismu, Pak Kiai mau bicara."
Tangis Comring reda. Sambil membetulkan duduknya, Comring mengusap-usap mata.
"Silahkan Pak, teruskan!" Ucap Bu Kiai kepada suaminya.
"Baiklah. Mohon maaf Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Begitulah Nak Cinta memang, sudah kami anggap bagian dari keluarga kami, dan dia pun sudah menganggap, keluarga kami bagian darinya. Karenanya kebahagiaan kami, menjadi kebahagiaannnya juga. Baiklah saya ulangi lagi, saya atas nama keluarga di sini, sengaja mengumpulkan Bapak dan Ibu, juga sengaja mengundang Pak Dodo dan Ibu ke sini, untuk kami minta doa restu, dan dukungan semuanya untuk anak kami, Muhammad Azwar Nasiruddin, SH, dalam pemilu Bulan April nanti. Bapak ibu semua mohon kerelaannya untuk menjadi tim sukses bagi anak kami, dan Anda Nak cinta, kami percayakan ketua tim Sukses desa Sukarusuh kepada Nak Cinta dibantu orang tua Nak Cinta."
Haha.
Tamat, sodarah, sodarah.....
Begitulah nasib Si Comring.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar