Dimas Joko. Saya memanggilnya Mas Dimas.
Kadang risih ketika memanggil dia dengan sebutan Mas
Khawatir dikira nyebut Nama. Dan ini sebagian cerita tentangnya, dalam buku memori penulis edan.
Kadang risih ketika memanggil dia dengan sebutan Mas
Khawatir dikira nyebut Nama. Dan ini sebagian cerita tentangnya, dalam buku memori penulis edan.
Malam itu dia menegur supaya saya memperbaiki dokumen rusak. Dokumen itu punya salah satu member KBM. Hasil kerja keras orang. Dia mengingatkan saya secara baik-baik, namun dengan hati busuk, saya menerimanya salah. Saya anggap dia memojokkan saya. Maka saya kobarkan kebencian padanya. Ketika dia minta maaf, saya membalasnya dengan perdebatan, kata-kata kurang ajar, dan segala ungkapan menyakitkan. Itulah sekelumit kisah awal saya berkenalan dengannya.
Waktu itu, saya mengenalnya sebagai penulis puisi. Beberapa puisinya mendapatkan simpati orang. Banyak yang mengapresiasi, bahkan meminta pengajaran tentang puisi padanya. Akan tetapi saya, dengan seenak perut, dan tanpa perasaan, saya katakan puisinya buruk. Sungguh itu kelakuan buruk yang, jika itu menyerang seorang mental tahu, susah baginya buat memaafkan. Lebih buruk dari itu, saya menyudutkannya dengan beberapa ayat Al-Qur'an.
Saya katakan padanya, penyair membawa kesesatan. Para pengikutnya adalah, para manusia yang bergelimang kesesatan. Dan saya katakan, semua itu ada dalam Al-Qur'an. Mas Dimas minta saya menunjukkan ayatnya. Beberapa kali saya berkelit, tidak mau menunjukkan ayat itu. Mas Dimas mendesak, begitu juga temannya. Saya terus berkelit, tidak mau menunjukkannya.
Namun akhirnya, dengan sombong, saya tunjukkan juga ayat itu. Sambil tertawa-tawa, penuh kepuasa, bersama kekasaran. Sungguh nista. Al-Qur'an mulia, yang seharusnya saya tunjukkan dengan santun, ini malah saya bawakan dengan sikap jahat.
Karena dalam posisi benar, Mas Dimas dapat dukungan. Sebagian besar member KBM meminta saya bersikap baik. Sebagian lain melecehkan, dan itu wajar, sebab saya memulainya. Cara saya berdebat di luar batas, dengan kata-kata yang biasa terlontar, dalam berbagai perdebatan agama. Hingga ujungnya.....
Mas Dimas minta saya berhadapan langsung. Facebook terlalu bebas untuk sewenang-wenang. Dunia online, terlalu lapang buat ngomong seenaknya. Maka dia minta saya debat dunia nyata. Dunia nyata lebih bisa mengadili, mana orang berani mana yang tidak. Mas Dimas menantang. Namun sayangnya, saya yang pengecut menolak. Ampun-ampunan, dan menyatakan diri menyerah. Tidak sanggup.
Di situ saya terdiam. Meski beberapa puisi, masih tetap menyemburkan umpatan.
Semakin lama saya perhatikan, Mas Dimas makin berkembang. Dia tidak stagnan. Tulisannya semakin bagus. Ungkapannya semakin bernas. Kalimat-kalimatnya berisi. Dia sering mengajarkan diksi, dan diksi itu dia amalkan sendiri. Dia sangat mencintai sastra, dan satra itu dia curahkan pada cerpennya. Beberapa baris saja orang membaca, kata-kata indah langsung berguliran ke dalam dada. Hingga puncaknya, saya lihat, tulisan dia masuk Republika. Bukan hanya itu, salah satu buku terjemahannya pun terbit. Terjemahan buku Karen Amstrong, berkisah tentang Muhammad Saw. Di sanalah saya angkat topi, kemudian malu, dengan segala kelakuan diri.
Saya coba mengajukan pertemanan, supaya langsung meminta maaf--lewat inbox, atau langsung menulis ke wallnya. Akan tetapi beberapa lama. Lamaran saya dia diamkan. Saya coba mengetuk pintu, namun penghuni rumah, sepertinya masih mempertanyakan ketulusan saya. Hingga akhirnya, setelah bulan-bulan berlalu, dan mungkin Mas Dimas melihat saya serius nulis (lebih tepatnya sih gila nulis) dan rasa tak sukanya pada saya mungkin sedikit mereda, akhirnya, dia terima ajuan pertemanan saya. Saya minta maafnya, dan dia maafkan, meski saya tahu, sikap bajingan saya susah dilupakannya. Saya katakan padanya, ingin sekali menemuinya, mengunjunginya langsung ke Yogya, minta maaf, dan ngobrol akrab dengannya.
Akan tetapi semuanya, sebatas keinginan, sebatas harapan, nyatanya entah kapan. Yogya, bagi saya terlalu jauh, membutuhkan banyak pengeluaran. Karenanya pikir saya, sampai kapan pun, bercakap dengannya akan sebatas facebookan.
Namun dugaan itu keliru. Episode worskhop bercerita lain. Pada hari special itu, saat saya masuki ruangan, Pak Agung katakan pada saya: "Dimas Joko pun ada."
"Oh ada?"
"Ya, ada tadi pake baju merah."
Oh Pak Agung, boleh saya tahu, apa maksud Bapak tiba-tiba memberitahu saya ada Dimas Joko?
Jawabannya dalam hati bapak, akan tetapi
Kalau boleh menebak, pasti karena Bapak katakan Dimas Joko ada di sini
Karena Bapak mau tahu bagaimana reaksi saya
Karena Bapak mau tahu bagaimana reaksi saya
Berani atau.....kabur terbirit-birit, mengingat hari-hari lalu, sudah kurang banyak bersikap kurang ajar pada Mas Dimas.
Akan tetapi saya, sebagai manusia mental tempe, yang sesekali mau kelihatan gentle, mencoba gembira mendengar kahadiran mas Dimas. Pada Pak Agung saya tanyakan: "Di mana dia sekarang?."
Tapi ini sejati, saya memang bahagia.
Artinya, minta maaf langsung padanya tak harus ke Yogya,
Mas Dimas ke sini, datang dengan sendirinya, takdir menggariskan kami harus bertemu di Jakarta.
Tak tahu muncul dari mana, Mas Dimas sudah berdiri di sana, di jajaran kursi paling atas. Bergegas saya hamiri, mencium tangannya, dan mengatakan, inilah saya: Dana. Ya, inilah dana, orang tengil, banyak omong, tukang debat, berani di online, namun cetek di offline.
Dia menyambut saya, dengan santunnya, dengan ramahnya
Kami saling menyentuhkan pipi. Kanan kiri.
Kemudian setelahnya, meski singkat, kami berbincang akrab.
Seekor elang menukik tajam, menuju bumi, menembus mendung, menerjang badai, dan mendarat dengan sempurna. Kini dia tengah bersantai, sejenak turun ke pantai, mencelupkan patuknya ke laut, mencicipi asinnya, sebelum akhirnya kembali ke ranting, merasakan ketenangan, dalam diam. Bukan elang gagah. Hanya elang kurus, yang bulunya nyaris gundul, dan itulah saya, yang terdiam keesokan harinya, di rumah Pak Isa, mendengarkan Mas Dimas Joko, berbagi ilmu dengan ucapan-ucapan mantapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar