Anda menginginkan buku Filsafat Islam dengan ketebalan luar biasa, ini dia bukunya. Anda yang sudah jatuh cinta pada bidang ini saya yakin, membaca buku filsafat ratus halaman takkan terasa. Anda masih kelaparan dan ingin membaca lebih banyak lagi. Dan buku ini, akan memberikan kepuasan pada selera Anda.
Tersaji di dalamnya berbagai tulisan dan kutipan dari para tokoh Islam mengenai filsafat. Anda akan dipuaskan dengan kutipan para tokoh, dengan bahasan yang lengkap dan mendalam. Malam Anda yang terasa panjang dan menjemukan, akan terasa singkat ditemani buku ini.
Siang hari saat kegerahan, saya mencoba membaca dan menuliskan sebagian isinya, memang luar biasa. Nyaman dan terasa lancar saat saya menuliskannya. Sekedar sedikit berbagi dengan Anda, saya coba bagikan kepada Anda sekelumit isinya:
Sebutan metafisika, berasal dari sebuah karya Aristoteles, Metaphisics, yang judulnya merujuk pada risalah-risalah, yang disusun setelah Physics dalam kumpulan karyanya.
Dalam literatur filsafat berbahasa Arab, metafisika disebut dengan bermacam-macam ungkapan, seperti ma ba'd (fauq, wara) al-thabiah (sesuatu yang berada setelah alam), al-falsafah al-Ula (Filsafat Pertama), ilahiyyat (Teologi, ketuhanan) atau bahkan (Kebijaksanaan). semua istilah ini, kecuali yang terakhir, secara historis, berasal dari padanan-padanannya dalam bahasa Yunani, dan penggunaan nama-nama itu, pada tahap-tahap awal pemikiran filosofis dalam Islam, tampak lebih ditentukan oleh cara-cara penggunaan sumber-sumber atau model-model Yunani di tangan para penulis Muslim ketimbang makna harfiyah atau ketepatan mereka.
Oleh karena itu, pada bagian awal risalahnya, "Fil Al-Falsafah Al-Ula" Al-Kindi menjelaskan bahwa filsafat pertama dinamakan demikian karena ia adalah ilmu tentang realitas (haqq) pertama yang merupakan sebab dari semua realitas, dan pengetahuan akan sesuai mensyaratkan pengetahuan akan sebabnya. Melangkah lebih jauh, dia menyebutkan studi tentang susuatu yang berada di luar alam, yakni sesuatu immaterial (non materi), dan hubungan antara sebab pertama dan sesuatu yang imaterial yang umumnya sebegitu jauh tetap tidak dijelaskan.
Namun yang jelas adalah kontras antara sesuatu yang alami--yang mempunyai gerak dan materi--dengan sesuatu yang imarial--yang tidak mempunyai gerak maupun materi. Bab ketiga risalah yang sama difokuskan kepada pembahasan panjang tentang kesatuan dan kemajemukan yang berpuncak pada penegasan baru tentang eksistensi sebab pertama yang lebih tinggi dan mulia dibandingkan dengan segala sesuatu yang mendahului mereka sebagai sebab dari wujud kelangsungan mereka. Salah satu alasannya adalah mustahil menerima kebenaran serangkaian sebab tak terhingga. Selain itu, sebab pertama adalah satu; dia bukan gerak dan bukan pula jiwa, akal, atau sesuatu yang lain, melainkan Dia adalah sebab dari segala sesuatu selain dari-Nya.
Oleh karena itu, pada bagian awal risalahnya, "Fil Al-Falsafah Al-Ula" Al-Kindi menjelaskan bahwa filsafat pertama dinamakan demikian karena ia adalah ilmu tentang realitas (haqq) pertama yang merupakan sebab dari semua realitas, dan pengetahuan akan sesuai mensyaratkan pengetahuan akan sebabnya. Melangkah lebih jauh, dia menyebutkan studi tentang susuatu yang berada di luar alam, yakni sesuatu immaterial (non materi), dan hubungan antara sebab pertama dan sesuatu yang imaterial yang umumnya sebegitu jauh tetap tidak dijelaskan.
Namun yang jelas adalah kontras antara sesuatu yang alami--yang mempunyai gerak dan materi--dengan sesuatu yang imarial--yang tidak mempunyai gerak maupun materi. Bab ketiga risalah yang sama difokuskan kepada pembahasan panjang tentang kesatuan dan kemajemukan yang berpuncak pada penegasan baru tentang eksistensi sebab pertama yang lebih tinggi dan mulia dibandingkan dengan segala sesuatu yang mendahului mereka sebagai sebab dari wujud kelangsungan mereka. Salah satu alasannya adalah mustahil menerima kebenaran serangkaian sebab tak terhingga. Selain itu, sebab pertama adalah satu; dia bukan gerak dan bukan pula jiwa, akal, atau sesuatu yang lain, melainkan Dia adalah sebab dari segala sesuatu selain dari-Nya.
Cukup sampai sana kutipan saya. Dengan penalaran asal saya punya kesimpulan, sebenarnya tujuan filsafat Islam hanyalah satu, mendukung kebenaran wahyu. Ketika filsafat biasa berusaha mencari kebenaran, maka filsafat Islam berusaha menguatkan kebenaran yang sudah ada.
Seperti tulisan di atas, filsafat digunakan untuk menguatkan kebenaran keberadaan Alloh dan keesaan-Nya. Dengan cara itu, maka filsafat bukan lagi pengetahuan yang bisa menyesatkan seseorang seperti anggapan semula, namun, sebuah pengetahuan, untuk semakin menguatkan akidah kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar