Sabtu, 15 Maret 2014

Workshop Traveling: Takut Digoda Kuntilanak

Turun di Stasiun Kereta Jatinegara harusnya saya beli tiket. Ini tidak, saya langsung naik KRL. Akibatnya di dalam, terus tengok kanan kiri, khawatir ada secuity.

"Mas, maaf tiketnya!"
"Tidak ada Pak! Saya tidak punya!"
"Tadi tidak beli?"
"Tidak."
"Terus, kenapa berani naik?"
"Ya beranilah Pak, masa naik kereta saja takut."
"Seharusnya Anda beli tiket!"
"Emh, keretanya bisa mundur lagi nggak pak?"
"Tidak bisa!"
"Nah, seharusnya bisa Pak. Pemerintah, seharusnya memberikan layanan terbaik kepada rakyatnya."
"Ya, itu kan tidak mungkin!"
"Sama tidak mungkinnya dengan saya harus balik ke stasiun beli tiket!"
"Tujuan Anda mau ke mana?" Tanya secuity itu.
"Ke Stasiun Tanah Abang!"
"Sebab tak punya tiket. Maaf, sebentar lagi kereta mau berhenti. Silahkan Mas turun!"
"Tapi kan Stasiun Tanahabang masih jauh."
"Iya, itu salah Anda. Anda tak punya tiket!"

Tiba-tiba kereta berhenti.

"Nah, silahkan mas keluar!" Kata secuity.
"Bisa bapak contohkan bagaimana cara keluarnya?"

Secuity mencontohkan: melangkah keluar, turun, dan ketika itu, kereta kembali melaju. Pintu tertutup. Secuity itu tertinggal.

Bebas?

Benarkah?

Belum. Pas saya turun di Stasiun Tanahabang, orang menuju pintu keluar. Saya ikuti mereka, tampak pintu itu terjaga orang. Pintu itu terhalangi palang besi, yang baru mau terbuka, jika orang memasukkan tiket. Sadar, saya sudah terperangkap.

Ada 3 cara buat saya lolos. Pertama, saya buntuti orang, lalu ikut menerobos bersamanya. Kedua memberanikan diri ke sana, meloncat. Ketiga, saya susuri sekeliling stasiun ini, siapa tahu ada celah buat keluar. Dua pilihan pertama tak mungkin, saya penakut, jadi saya pilih yang ketiga. Menyusuri tepian stasiun.

Tampak sebelah sana perhentian gerbong kereta. Gerasi mungkin lebih tepatnya. Saya berjalan ke sana, sambil berharap, sebelah belakangnya garasi itu menyediakan pintu keluar. 

Tampak beberapa orang mengurus mesin, dan saya berusaha memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan diri, takut ketahuan saya buronan. Buronan tiket. 

Kawasan mengerikan itu saya masuki. Beberapa gerbong tua barkarat terdiam bengong. Rerumputan liar bertumbuhan di atasnya. Tak berani menengok ke dalam gerbong, takutnya seekor kuntilanak tiba-tiba nyengir, mengajak saya mesum. Saya takut tergoda. Sudah seminggu lebih jauh dari istri. 

Saya perhatikan benteng semuanya tertutup. Bagian atasnya terpagari kawat berduri. Naik ke sana, selain berbahaya, juga bisa mengundang curiga. Kalau loncat lewat sana, turunnya ke dapur rumah orang. Saya belum siap diteriaki maling.

Akhirnya cuma diam. Termenung. Memikirkan nasib kenapa semalang ini. Tersesat. Tak tahu lewat mana mesti keluar. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah malang, tambah lagi tegang. Tampak dari jauh, pria gemuk hitam tanpa baju berjalan mendekat. Dari wajah kumalnya, sepertinya dia stres. Mending kalau stress, bagaimana jika dia ahli ilmu falak. Kemudian memalak uang saya, wah ini bahaya. 

Secepatnya saya lari. Lewat lagi ke garasi gerbong, dan ketika itulah tampak seorang berseragam lewat. Mungkin dia orang kantor perkeretaan. Saya mengikutinya kemungkinan dia mau keluar, ternyata tidak. Namun setelah dia berbelok, saya lihat sebuah gerbang keluar. 

Bebas lagi.......

(Catatan: Percakapan dengan secuity tadi fiktif, aslinya, tidak ada satpam nanya saya di kereta)

Workshop Traveling: Dimas Joko dan Orang Edan


Dimas Joko. Saya memanggilnya Mas Dimas.
Kadang risih ketika memanggil dia dengan sebutan Mas
Khawatir dikira nyebut Nama. Dan ini sebagian cerita tentangnya, dalam buku memori penulis edan.

Malam itu dia menegur supaya saya memperbaiki dokumen rusak. Dokumen itu punya salah satu member KBM. Hasil kerja keras orang. Dia mengingatkan saya secara baik-baik, namun dengan hati busuk, saya menerimanya salah. Saya anggap dia memojokkan saya. Maka saya kobarkan kebencian padanya. Ketika dia minta maaf, saya membalasnya dengan perdebatan, kata-kata kurang ajar, dan segala ungkapan menyakitkan. Itulah sekelumit kisah awal saya berkenalan dengannya.

Waktu itu, saya mengenalnya sebagai penulis puisi. Beberapa puisinya mendapatkan simpati orang. Banyak yang mengapresiasi, bahkan meminta pengajaran tentang puisi padanya. Akan tetapi saya, dengan seenak perut, dan tanpa perasaan, saya katakan puisinya buruk. Sungguh itu kelakuan buruk yang, jika itu menyerang seorang mental tahu, susah baginya buat memaafkan. Lebih buruk dari itu, saya menyudutkannya dengan  beberapa ayat Al-Qur'an. 

Saya katakan padanya, penyair membawa kesesatan. Para pengikutnya adalah, para manusia yang bergelimang kesesatan. Dan saya katakan, semua itu ada dalam Al-Qur'an. Mas Dimas minta saya menunjukkan ayatnya. Beberapa kali saya berkelit, tidak mau menunjukkan ayat itu. Mas Dimas mendesak, begitu juga temannya. Saya terus berkelit, tidak mau menunjukkannya. 

Namun akhirnya, dengan sombong, saya tunjukkan juga ayat itu. Sambil tertawa-tawa, penuh kepuasa, bersama kekasaran. Sungguh nista. Al-Qur'an mulia, yang seharusnya saya tunjukkan dengan santun, ini malah saya bawakan dengan sikap jahat.

Karena dalam posisi benar, Mas Dimas dapat dukungan. Sebagian besar member KBM meminta saya bersikap baik. Sebagian lain melecehkan, dan itu wajar, sebab saya memulainya. Cara saya berdebat di luar batas, dengan kata-kata yang biasa terlontar, dalam berbagai perdebatan agama. Hingga ujungnya.....

Mas Dimas minta saya berhadapan langsung. Facebook terlalu bebas untuk sewenang-wenang. Dunia online, terlalu lapang buat ngomong seenaknya. Maka dia minta saya debat dunia nyata. Dunia nyata lebih bisa mengadili, mana orang berani mana yang tidak. Mas Dimas menantang. Namun sayangnya, saya yang pengecut menolak. Ampun-ampunan, dan menyatakan diri menyerah. Tidak sanggup.

Di situ saya terdiam. Meski beberapa puisi, masih tetap menyemburkan umpatan.

Semakin lama saya perhatikan, Mas Dimas makin berkembang. Dia tidak stagnan. Tulisannya semakin bagus. Ungkapannya semakin bernas. Kalimat-kalimatnya berisi. Dia sering mengajarkan diksi, dan diksi itu dia amalkan sendiri. Dia sangat mencintai sastra, dan satra itu dia curahkan pada cerpennya. Beberapa baris saja orang membaca, kata-kata indah langsung berguliran ke dalam dada. Hingga puncaknya, saya lihat, tulisan dia masuk Republika. Bukan hanya itu, salah satu buku terjemahannya pun terbit. Terjemahan buku Karen Amstrong, berkisah tentang Muhammad Saw. Di sanalah saya angkat topi, kemudian malu, dengan segala kelakuan diri.

Saya coba mengajukan pertemanan, supaya langsung meminta maaf--lewat inbox, atau langsung menulis ke wallnya. Akan tetapi beberapa lama. Lamaran saya dia diamkan. Saya coba mengetuk pintu, namun penghuni rumah, sepertinya masih mempertanyakan ketulusan saya. Hingga akhirnya, setelah bulan-bulan berlalu, dan mungkin Mas Dimas melihat saya serius nulis (lebih tepatnya sih gila nulis) dan rasa tak sukanya pada saya mungkin sedikit mereda, akhirnya, dia terima ajuan pertemanan saya. Saya minta maafnya, dan dia maafkan, meski saya tahu, sikap bajingan saya susah dilupakannya. Saya katakan padanya, ingin sekali menemuinya, mengunjunginya langsung ke Yogya, minta maaf, dan ngobrol akrab dengannya. 

Akan tetapi semuanya, sebatas keinginan, sebatas harapan, nyatanya entah kapan. Yogya, bagi saya terlalu jauh, membutuhkan banyak pengeluaran. Karenanya pikir saya, sampai kapan pun, bercakap dengannya akan sebatas facebookan.

Namun dugaan itu keliru. Episode worskhop bercerita lain. Pada hari special itu, saat saya masuki ruangan, Pak Agung katakan pada saya: "Dimas Joko pun ada."

"Oh ada?" 

"Ya, ada tadi pake baju merah."

Oh Pak Agung, boleh saya tahu, apa maksud Bapak tiba-tiba memberitahu saya ada Dimas Joko? 

Jawabannya dalam hati bapak, akan tetapi
Kalau boleh menebak, pasti karena Bapak katakan Dimas Joko ada di sini
Karena Bapak mau tahu bagaimana reaksi saya
Berani atau.....kabur terbirit-birit, mengingat hari-hari lalu, sudah kurang banyak bersikap kurang ajar pada Mas Dimas.

Akan tetapi saya, sebagai manusia mental tempe, yang sesekali mau kelihatan gentle, mencoba gembira mendengar kahadiran mas Dimas. Pada Pak Agung saya tanyakan: "Di mana dia sekarang?."

Tapi ini sejati, saya memang bahagia. 
Artinya, minta maaf langsung padanya tak harus ke Yogya, 
Mas Dimas ke sini, datang dengan sendirinya, takdir menggariskan kami harus bertemu di Jakarta. 

Tak tahu muncul dari mana, Mas Dimas sudah berdiri di sana, di jajaran kursi paling atas. Bergegas saya hamiri, mencium tangannya, dan mengatakan, inilah saya: Dana. Ya, inilah dana, orang tengil, banyak omong, tukang debat, berani di online, namun cetek di offline.

Dia menyambut saya, dengan santunnya, dengan ramahnya
Kami saling menyentuhkan pipi. Kanan kiri. 
Kemudian setelahnya, meski singkat, kami berbincang akrab.

Seekor elang menukik tajam, menuju bumi, menembus mendung, menerjang badai, dan mendarat dengan sempurna. Kini dia tengah bersantai, sejenak turun ke pantai, mencelupkan patuknya ke laut, mencicipi asinnya, sebelum akhirnya kembali ke ranting, merasakan ketenangan, dalam diam. Bukan elang gagah. Hanya elang kurus, yang bulunya nyaris gundul, dan itulah saya, yang terdiam keesokan harinya, di rumah  Pak Isa, mendengarkan Mas Dimas Joko, berbagi ilmu dengan ucapan-ucapan mantapnya.

Workshop Traveling: Agung Pribadi Dalam Catatan Saya

Masuk ruangan workshop, dominan nuansa merah. Kursi merah, lantai merah. Kursi-kursi itu tertata rapi, pada wahana bertangga-tangga. Ruangan begitu simpel, nyaman sekali buat acara. Flamboyan, itulah nama cantiknya. Memang benar-benar flamboyan: mungil, tapi mewah....

Di sudut sana, pada kursi paling depan, duduk seorang pria berkecamata. Segar sehat badannya, putih bersih wajahnya, tanpa mau menunda, saya langsung menghampirinya, mencium tangannya, dan dengan hati-hati, mengajaknya bicara.

"Pak Agung, bagaimana sehat?"
"Alhamdulillah."
"Pak, buku GGI itu sengaja ditulis buat humor? Bacanya buat saya tertawa-tawa."
"Iya memang itu buku sengaja dibuat lengkap, humornya ada, tragedinya ada, sejarahnya ada, motivasinya pun ada."

Saya lupa percakapkan kami berikutnya apa. Yang jelas, Pak Agung menceritakan, pengalaman orang lain yang membaca bukunya tidak jauh beda dengan saya, banyak tertawa-tawa. Saya katakan langsung pada Pak Agung, sampai sekarang belum mau menamatkannya. Sudah dekat ke halaman akhir, sengaja saya tunda, tak mau buku itu cepat habis. 

Seterusnya, saya lebih banyak diam, tak juga banyak tanya, khwatir merusak suasana. 

Pak Agung bukan orang biasa, dia banyak ilmu. Kami tidak selevel. Ngobrol banyak padanya, takut buat dia kehilangan selera. 

Di tempat ini, dari tadi pak Agung duduk menyendiri. Bisa jadi sedang nunggu wangsit, buat ide buku terbarunya. Jadi, saya hanya menunggunya bicara. Dan dia diam saja.

Wajah Pak Agung ini masih sangat muda. Segar, sangat berbeda dengan wajah facebooknya. Bukannya kurang ajar, ini jujur saja, saya katakan, foto Pak Agung pada facebook kesannya dewasa. Terlebih pada cover bukunya. Khas wajah para petinggi negeri kita Namun kenyataannya beda, pas saya bertemu langsung dengannya, wajahnya masih tampak muda, mirip-mirip wajah para guru pesantren, yang kesehariannya bergelut kitab dan pena.

Lama kami terdiam
Membuat saya kemaluan sendiri. 
Emh maksudnya, saya jadi malu sendiri.  
Pindah ke kursi lain, ke sebelah atas sana, ke dekat si manis, Richie.

*  *  *

Malam setelah workshop, saya bermalam di rumah penerbitan Pak Isa. Semalaman online, paginya online lagi. Bakwa shubuh sampai siang, hingga tak terasa, sudah masuk jam kerja. Saya online di lantai 3, lalu dari arah tangga, muncul sang tokoh utama:

"Eh Dana, maaf nih saya terlambat!"

"Kenapa terlambat Pak? Pak Agung harusnya tepat waktu!" Bentak saya.

"Jalanan macet Dan!"

"No Excuse! Yang namanya terlambat ya terlambat! Sebagai hukuman, silahkan Bapak berdiri satu jam di sudut sana!"

"Tidak ada pilihan lain Dan?"

"Tidak ada. Pelanggar sudah seharusnya dihukum!"

"Bagaimana kalau saya bayar 400 rebu. Kamu mau? Saya banyak tugas, mau langsung kerja!"

"500 ribu saya mau!"

"Adanya 400 ribu."

"Ya tidak mengapa. Mana. Sini!"

Pak Agung menyerahkan uangnya. 

Haha, sekedar canda. Andai saya berani begitu, mungkin Pak Agung langsung telfon: "Pak Isa, maaf ini Dana belum diberi obat Pak!"

Siangnya dia mengajak makan. Lagi-lagi saya hanya terdiam. Bingung.

"Makan dulu atau sholat dulu nih?" tanyanya.

Saya diam. 
Armiadi dan Alie Isfah memberi pandangan. 

Makan dulu atau solat dulu?
Makan dulu, ingat solat waktu makan
Solah dulu berarti ingat makan waktu sholat
Lebih baik ingat solat waktu makan dari pada ingat makan waktu sholat.

Okelah Ayo!

Pak Agung keluar. Bersama Alies Isfah dan Armiadi Asamat, saya membuntut.

Menuju bawah Gedung Depok Mall. Sampai sana mata saya liarr. Ruang bawah tanah itu ternyata punya super market. Punya restaurant-nya juga. Beberapa orang, tampak makan di sana. 

Oh baik nian hati Pak Agung. Akan membawa kami ke sana. Di samping mall itu, perlahan kami melangkah, sambil mata saya, berkali-kali mencuri pandang, ke dalam restaurant, melihat orang orang. Tampaknya mereka, sedang menikmati ayam, daging panggang, stik kentang. Terus melangkah, melangkah, dan melangkah, saya heran, kenapa jalan Pak Agung lurus. Terus melangkah, saya makin heran, ini semakin jauh dari pintu muka. 

Mungkin Pak Agung mau lewat belakang, untuk mendapat harga murah. 

Ternyata tidak. Langkah Pak Agung menjauhi mall....hingga tiba ke depan mesjid.

Jadi?
Jadi pak Agung mau sholat dulu?

Waduh. 
Saya tak bawa sarung. 
Ini celana, sudah dua hari belum ganti.
Ini satu-satunya celana yang saya bawa, sudah pesing. Terpaksa kembali pulang, ke rumah penerbitan, bersalin, bersuci, kembali ke mesjid, Pak Agung dan kawan-kawan sudah tak ada, Entah ke mana mereka.

Jumat, 14 Maret 2014

Semobil Dengan Keluarga Penulis

Semobil dengan keluarga penulis. Bagi saya, itu bukan lagi mimpi. Sepulang workshop, itu saya alami. 

Pak Isa yang baik hati, mengajak serta di mobilnya. Dan bagai anak kucing, saya ikut dengan senang hati.
Dan pengalaman itu.....sesuatu banget! Soalnya, selama ini, yang namanya Asma Nadia itu cuma gambar, cuma buku, cuma tulisan...dan ketika saya buka youtube, juga cuma video. Itu pun sekilas-sekilas saja. Dia memang ada di facebook, tapi hadeuhh, komunikasi dengannya susah. Sekali muncul tulisannya, udah gak datang-datang lagi, udah gak bisa ditanya lagi. Orang-orang berkerumun datang, ngak-ngak-ngok, prat-pret-prot, cas-cis-cus mengomentari postingannya, dia cuek aja. Sekali waktu, saya candai mbak Asma dengan melecehkan bukunya lewat tulisan "Assalamualaikum Beijing Seharusnya Dilarang Beredar.", baru deh mbak Asma muncul, minta link blog: "Dana, linknya dong!" katanya. Sudah saya kasih link blog, ya sudah, dia ngilang lagi. Jangankan balas ngomen, nge-like aja tidak. Datang sekali, langsung kabur lagi. 

Tapi sekarang tidak. Dia ada, duduk di jok depan, di samping putrinya, di depan suaminya, yang duduk di samping saya, Pak Isa.

Sejak menganal fiksi Islami, nama Asma Nadia langsung ke hati. Saya tak malu buat jujur-jujuran, kalau baca buku mbak Asma, saya suka habiskan sampai kulit belakangnya. Waktu itu, sedang gencar-gencarnya tren fiksi islami. Berbagai nama bermunculan. Bagai pop corn dalam penyangrayan. Dan dari semua penulis yang ada, saya senang banding-bandingkan, siapa yang tulisannya paling mengesankan. Bukan mengada-ada, pilihan saya jatuh pada buku Asma Nadia. Karenanya, semoga Anda percaya, waktu sekolah, saya rela habis banyak uang buat beli bukunya. Pernah pula beli majalah Annida, cerpen mbak Asma ada di sana. Wah, sampai berkali-kali saya mengulangnya, Saya tak percaya bakal ketemu langsung dengan orangnya.

Bagaimana dengan Pak Isa?
Mulai mengenal namanya, saya memandang Isa Alamsyah adalah sosok misteri. Namanya paling muncul pada biografi singkat di bagian belakang novel Mbak Asma.

"Nama asli penulis ini Asmarani Rosalba. Suami Isa Alamsyah ini...dst."

Isa Alamsyah? Siapa Isa Alamsyah?`

Pengusaha terkenalkah? Politikuskah? Ilmuwankah? Cendikiawan? Pejabat teras atas? Saya belum pernah mendengarnya. Jadi, untuk nama yang satu ini, tidak membuat saya penasaran. Pada awalnya. Hingga.....

Suatu hari, datang kiriman sekardus buku dari Rumah Baca Asma Nadia. Kardus itu saya bongkar, dan di dalamnya, saya menemukan sebuah buku dengan format besar. Buku itu bergambar seseorang, dan saya tahu dia siapa setelah membaca nama penulisnya, Isa Alamsyah. Buku itu berwarna merah dengan label bestseller, saya langsung penasaran ingin membuka isinya. Luar biasa, masuk ke halaman mana saja, langsung mendapatkan mutiara. Bertaburan di dalamnya kisah-kisah, dan semua kisah itu sangat berharga. Penulis menyusunnya dalam format misteri yang membuat pembaca merasa penasaran. Misalnya ketika dia mau mengisahkan pemeran Rambo, dia memulai kisahnya tanpa menyebutkan nama. Dia menyebut, seorang pria, seorang bocah, seorang wanita, dan seterusnya. Buku itu seharusnya tersimpan di rumah baca, namun saya, dengan licik malah membawanya ke rumah. Itu buku berharga, No Excuse! Wah dari judulnya saja sudah memberikan tenaga.

Kepada penulisnya?
Haha, masih juga belum penasaran. Saya kira Isa Alamsyah sekedar pembicara, motivator, dan seorang pembicara, bagi saya bukan seorang istimewa. Orang-orang seperti ini, sudah banyak saya dengar. Saya hanya tertarik pada bukunya, bukan pada orangnya. Hingga suatu ketika, akhinya saya tahu juga satu hal besar dari seorang Pak Isa.......

Dan itu terjadi ketika saya gila facebook. Seorang teman memasukkan saya ke dalam sebuah grup, Komunitas Bisa Menulis, dan saya perhatikan, ini grup cukup aktiv dan serius. Akan tetapi saya heran, dalam grup ini saya tidak bisa menulis. Wall tidak tersedia, tapi akhirnya mengerti. Hanya admin saja yang bisa nulis di sana. Apalah daya, akhirnya saya hanya bisa ngomen. Beberapa tulisan orang telah terangkat ke wall, dan saya hanya bisa ngomen.

Dalam gerak-gerik saya berikutnya, tidak sengaja saya merusak dokumen orang.  Pemiliknya nangis, dan yang lain, mendamprat saya dengan segala sebutan. Semua nyaris kerjasama menyudutkan saya. Dan saya bingung, ini tidak sengaja. Malam semakin larut, dan dalam kebingungan itu datang sebuah akun........

Akun ini......
Bergambar profil cover buku.....
Cover buku itu, sangat saya kenali, sampulnya merah, bergambar seseorang
Seseorang yang selama ini, saya anggap jauh, jauh, jauhhhhhh sekali
Seseorang yang selama ini, saya kira, takkan bisa dengannya berkomunikasi

Isa Alamsyah....

Dia datang.....sebagai admin, selayaknya dia mendamprat saya, memarahi saya, dan mencaci maki saya, tapi...dia tidak.

Meski sudah jelas yang merusak dokumen itu saya, dengan hati-hati dia bertanya, "Ini siapa yang mengganti dokumen?"

Cepat saya ngaku. "Saya Pak!"

"Dana, jadikan ini yang pertama dan terakhir ya!"

Melayang, terbang, ke angkasa luas saya serasa dibantingkan, dan mendarat di padang rumput luas. Duduk sila memandang alam, ada seorang anak gembala di sana, menunggang kuda, di kelilingi kawanan domba, dan saya mendengar nyanyian serulingnya yang menyanyikan kedamaian, persahabatan, ketenangan, lukisan indah dunia, kasih sayang orang tua, lagu-lagu rindu, musik melayu......Teman, di sinilah mulai saya melihat Pak Isa berbeda.....dia penulis, pasti banyak baca. Dari sekian banyak bacaannya, dia pasti membaca cara mengingatkan manusia tanpa menyinggungnya.

Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan saya berapada di grupnya, tapi gaya saya, masih tetap seperti yang lama, kontoversial dan pengacau. Tapi Pak Isa?

Paling dia mengingatkan dengan kata:

"Hmmmmmhhh"

"Ini bagaimana kalau dibaca anak-anak ya?"

"Ini Dana kelakuan masih sama aja."

Di sini saya hanya malu dan nyengir. Saya semakin hormat padanya, Pak Isa tak pernah menunjukkan sewotnya. Padahal menurut perhitungan, sudah seharusnya dia menendang saya. Tapi tidak. Semakin lama semakin baik, semakin saya mendapatkan banyak ilmunya, semakin tulisannya nikmat saya baca. Dia menulis spontanitas, saat itu terpikir, saat itu menulis, dan saat itu juga tulisannya langsung menjadi tulisan menarik. Ini orang tidak biasa, pikir saya, maka saya terus menggali informasi tentangnya dengan bertanya langsung padanya, bagaimana masa kecilnya, bagaimana awal mula karir menulisnya, dan bagaiman prinsip hidupnya...dan dia, tidak pernah pelit berbagi ilmu, dia tidak menempatkan dirinya sebagai orang eksklusif alias jual mahal, tapi murah hati, berbagi, akrab, ekspresif, dan tidak pernah takut kehabisan ilmu buat dibagikan......yang membuat perbincangan di rumah bersama istri, banyak yang bertema Pak Isa.

"Tapi dia muslim kan?" Tanya istri saya.

"Ya muslim lah. Sembarangan saja kamu!"

"Itu karena saya perhatikan namanya, kok Isa. Nabi Isa itu kan nabinya orang......."

"Haaahhh! Bukan, dia orang muslim, suaminya Asma Nadia yang jilbaber itu."

Namun sejauh itu, nama Isa Alamsyah sebatas onlen, sebatas gambar, sebatas kata-kata, sebatas tulisan, sedangkan bertemu dengan orangnya? Belum pernah, bahkan buat berharap pun susah. Entah bagaimana caranya.

Tapi sore ini, petang ini, di awal malam ini, saya duduk di sampingnya, mendengarnya, melihatnya, langsung menyimak prinsip-prinsip hidupnya, candaan bersama istrinya, candaan kepada anaknya, sopirnya, dan sedikit drama-drama menarik di rumahnya.....

Memangnya di mobil Bu Asma Nadia bercerita apa saja, ilmu apa saja yang dibagikan Pak Isa, dan bagaimana tingkah Putri Salsa?

Maaf, masalah itu, biar jadi rahasia saya.

Trik Mudah Mengkongkritkan yang Abstrak


Kongkrit itu jelas
Abstrak itu tidak jelas. Dan......
Salah satu keterampilan menulis adalah,
Bisa mengkongkritkan yang abstrak. Membuat yang samar menjadi jelas.

Membuat yang kongkrit menjadi abstrak. Bagaimana caranya?

Mungkin Anda bisa belajar dari Nabi Isa.

Nah, jadi. Mari kita duduk santai
Kita belajar kepada nabi yang satu ini
Bagaimana cara dia mengkongkritkan yang abstrak

Nabi Isa pernah berkata: ""Hai orang-orang Hawariyyin, betapa banyak pelita yang dipadamkan oleh angin. Dan betapa banyak amal ahli ibadah yang dirusak oleh ujub."

Nabi Isa ingin menjelaskan tentang ujub, yang bahayanya bisa merusak amal
Dan kedua kata itu masuk kata-kata abstrak
Kemudian dengan kecerdasannya
Nabi Isa mengkongkritkan kedua kata itu
Dengan mendahuluinya kalimat jelas, terjangkau indra
Dengan mengatakan angin dan pelita, amal dan ujub jadi terbandingkan

Mengkongkritkan yang abstrak
Jangan kira itu rumit
Mudah
Mudah sekali caranya!

Ujub Menimbulkan Kemusyrikan

Kemusyrikan, selama ini orang mengira hanya menyembah roh, menyimpan sesajen di tempat angker, supaya dimakan para dedemit. Selama ini orang mengira, musyrik itu hanya menyembah batu. Musyrik tidak sekedar itu. Ujub mengagumi diri sendiri, bisa menjerumuskan seseorang kepara kemusyrikan.

Kenapa ujub masuk kemusyrikan?

Karena ketika seseorang ujub terhadap dirinya, meskipun dalam bagian yang kecil, maka ia akan melihat hal itu dengan pandangan kagum. Ia akan meyakini dan mengandalkannya dalam meraih manfaat baginya dari perkara tersebut. Ini adalah salah satu macam syirik yang berbahaya.

Ibnu Taimiyyah berkata, "Riya adalah musyrik dengan makhluk, sementara ujub adalah musyrik dengan diri,"
Dr. Muhammad Said Al-Buthi menegaskan makna ini. Ia berkata, "Syirik tidak terbatas pada makna luar yang tidak mendalam, yang tercerminkan dalam menyembah berhala dan yang selain Alloh, atau tercerminkan dalam tindakan salah seorang dari kita yang meminta kepada selain Alloh. Tetap, ia mempunyai makna tersembunyi yang menyelusup karena ketersembunyiannya ke dalam hati dan jiwa kaum muslimin tanpa diketahui dan dirasakan. Itulah sumber bahayanya. Karena setiap kita melakukan amal shaleh, ibadah, atau sesuatu semacam jihad, niscaya syirik yang tersembunyi (terselubung) itu menghancurkan pahalanya dan menghilangkan nilainya, serta mengubahnya dari ketaatan yang diterima menjadi kemaksiatan dan syirik. Alloh berfirman,

"Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada kepada Alloh, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Alloh (dengan sembahan-sembahan lain)." (Yusuf: 106)

Syirik yang tersembunyi ini adalah ketika seseorang melihat dirinya sebagai sumber kekuatan ketika ia berjalan dan bergerak, sumber pengetahuan dan pemahaman jika ia mengetahui sesuatu atau belajar, sumber kepemilikan dan kekayaan jika ia kenyang dan merasakan kenikmatan atau sumber kemenangan dan kegagahan ketika ia mampu melakukan sesuatu atau menguasainya.
Semua itu adalah ilusi semata yang bertentangan dengan hakikat yang darinya manusia itu tersusun. Oleh karena itu, ia bertentangan dengan tauhid, juga bertentangan dengan orang yang mengklaim bahwa ia adalah seorang yang bertauhid, jika ia mempunyai ilusi semacam itu."

Kamis, 13 Maret 2014

Buang Air dalam Kereta

Pemerintah jangan dihujat terus. Sesekali ucapkan terima kasih apa susahnya sih? Fasilitas kereta semakin dilengkapi. Penumpang tak harus kebelet. Ada 2 WC pada setiap gerbong.

Sempoyongan saya berjalan menuju kamar kecil, dan insiden pun terjadi..........

"Keluar! Ayo keluar! Keluar nggak? Heh, ayo keluar! Cepat! Keluar Kamu cepat!"

Susah nian kencing dalam kereta. Dalam ruangan sempit itu, badan saya terbanting-banting. Sedikit mau keluar, surut lagi. Guncangan terus menggodanya.

Sekian kali saya usir, baru air hangat itu mengalir. Sembari menikmati kelegaan, saya perhatikan klosetnya. Dari lubang itu, tampak di bawah papan berlarian. Ini kloset kereta pembuangannya kok langsung ke rel? Berarti kencing saya jatuh ke sana. Sepanjang jalan yang kencing bukan seorang dua orang. Tidak kebayang rel betapa pesingnya. Mending hanya kencing. Bagaimana yang lebih dari kencing?

Kasihan para pekerja perbaikan Rel! Pasti sering mendapai "donat". Kebanyakan pasti donat berantakan!

Tak jauh dari kampus saya, terkenal sebuah jembatan bernama Cirahong. Cirahong adalah jembatan penyebrangan bagi mobil dan motor. Di atas tempat menyeberang mobil dan motor itu, membentang rel kereta. Maka orang paling sial adalah pengendara motor yang lewat jembatan itu, dan secara kebetulan kereta lewat di atasnya. Dari bagian bawah kereta, suka jatuh tetesan-tetesan air. Kadang tetesan itu jatuh ke muka. Howekkkkkk!!!!!

Ujub Penyakit Jahat

Ujub seseorang terhadap dirinya meskipun dalam suatu partikel kecil dapat menyebabkan dia menganggap dirinya besar, lalu melihatnya lebih besar dari orang lain dalam partikel itu, meyakini manfaatnya, dan ia merasa mampu dengan kekuatan dan usahanya sendiri untuk menggunakan potensinya itu kapan saja ia mau, untuk menampakkan kelebihan dan keistimewaannya kepada orang lain.

Pemahaman ini terkadang dianggap sepele oleh sebagian orang. Akan tetapi, bisa dianggap masalah besar bagi orang lain.

Banyak dari kita menyangka bahwa penyakit ujub terhadap diri hanya menimpa orang-orang yang biasa tampil di depan masyarakat (publik), serta orang-orang yang mempunyai banyak kemampuan dan potensi yang tinggi. Pada faktanya, memang benar mereka itu adalah orang-orang yang paling besar kemungkinannya untuk terkena penyakit ini. Akan tetapi, penyakit itu tidak menimpa mereka saja. Karena penyakit itu berusaha mengenai semua orang, dan menungu momen yang tepat untuk bercokol dalam diri siapa pun.

Jika Anda merasa ragu tentang hal ini, maka apa panafsiran Anda terhdap keadaan orang fakir miskin yang tidak dikenal manusia, yang meskipun demikian, dia merasa dirinya besar, bahkan dia melihat kelebihannya dibandingkan orang lain, karena kelebihan-kelebihan yang dia sangka ada dalam dirinya?

Ini adalah penyakit yang jahat! Penyakit yang mengetahui dengan baik jalan ke dalam jiwa manusia. Penyakit ini berusaha untuk memengaruhi manusia dari perbuatan baik yang dilakukannya, baik berupa ucapan atau perbuatan, kemudian berusaha memperbesarnya dan ujub terhadapnya, sambil melupakan Alloh yang memberikan anugerah hal itu.

Ada orang yang bertanya kepada DAwud Ath Thaai, "Apakah Anda pernah melihat seorang yang mendatangi pejabat itu, kemudia ia menyerukan kebaikan kepada mereka dan mencegah mereka dari kemunkaran?"  Dia menjawab, "Saya khawatir ia akan dicambuk oleh pejabat itu." Lalu ada yang berkata, "Ia sanggup menanggung kemungkinan itu." Ia menjawab, "Saya takut ia dibunuh." Kemudian ada lagi yang berkata, "Ia sanggup menanggungnya." Ia berkata, "Saya khawatir ia terkena penyakit yang terpendam, yaitu ujub."

Maka ujub adalah penyakit akal, akal apapun, yang selalu mengajak untuk menganggap besar ucapannya, amalnya, atau pemikirannya, dan memuji dirinya berdasarkan hal itu.

Mengapa Percaya Diri Bisa Menyesatkan?

Mari kita lihat kata dasarnya.

Percaya diri.
Anak SD saja sudah mengerti, percaya diri ya percaya kepada diri.
Percaya kepada kekuatan sendiri, kemampuan sendiri, pengetahuan sendiri.

Sedang dalam agama, kekuatan, kamampuan dan pengetahuan itu, sepenuhnya punya Alloh.
Ada ucapan hauqolah, yang artinya, "Tiada daya, tiada kekuatan, selain dengan Alloh."

Orang yang percaya diri?
Ya dia percayanya kepada diri
Dia percaya, kemampuan dan kekuatan itu ada pada diri
Dia percaya, dia mewujudkan sesuatu, adalah pengetahuannya sendiri

Mengapa Orang Ujub Menyebalkan?

Ibnu Mubarak berkata: "Ujub adalah engkau memandang bahwa ada sesuatu keistimewaan dalam dirimu yang tidak ada dalam diri orang lain."

Misalnya, Anda melihat diri Anda memiliki harta, pengetahuan dan kepandaian lebih dari orang lain.

"Bagaimana jika semua itu benar ada pada diri saya?"
Menjawab bentahan ini, Dr. Majdi Al-Hilali menulis: "Ya, mungkin kita punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Tetapi semua itu milik siapa?.

Alloh berfirman: "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di dalamnya." (Al-Maidah: 120).

Karena semuanya kepunyaan Alloh, berbangga diri dengan apa yang menjadi kepunyaan-Nya menjadi sebuah kekonyolan.
Inilah alasan kenapa seringkali saya mengakui diri sebagai penulis edan, karena kebanyakan tulisan saya, banyak membangga-banggakan diri. Dan menurut saya, kebiasaan ini ciri manusia edan. Itu ciri manusia yang tidak mempunya kesadaran. Dia tidak sadar, apa yang ditangannya itu bukan miliknya. Dan karena tidak sadar, tanpa tahu malu dia membangga-banggakannya.

Sayangnya, hanya sedikit orang menyadari ini. Ketika membanggakan miliknya, dia merasa dirinya normal-normal saja.  Dia mengira, dengan membangga-banggakan diri, orang akan ikut berbangga dengannya. Dia tak tahu, meski ada orang ikut berbangga, sikap bangga mereka hanya pura-pura. Dia buta dari kenyataan bahwa, sikapnya membangga-banggakan diri hanya membuat orang menjadi sebal kepadanya.

Coba, hitung, berapa orang ikut berbangga dengan kebanggaan Anda?

Nyaris tak ada!

Malah yang ada, adalah orang yang sebal kepada Anda
Malah yang ada, orang yang berusaha menjatuhkan Anda
Malah yang ada, orang yang berusaha mengecilkan hati Anda

Yang ada hanyalah orang yang berusaha membuat kebanggaan Anda itu hilang
Yang terjadi hanyalah sikap buruk orang-orang

Kalau sampai terjadi, itu bukan salah mereka!
Itu salah Anda sendiri, memang begitulah balasan orang-orang yang membangga-banggakan diri.

Rabu, 12 Maret 2014

Percaya Diri Itu Menghancurkan

Percaya diri itu menghancurkan!

Itu karena sikap percaya diri seringkali terwujud dalam sikap membanggakan diri. Dan seorang yang terbiasa membanggakan dirinya sendiri, pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Nabi bersabda: "Adapun tiga hal yang menghancurkan, yaitu kikir yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan kagumnya seseorang kepada dirinya sendiri." (HR. Ath-Thayalisi)

Dengan alasan percaya diri, seseorang kadang menceritakan kelebihan dirinya. Dengan alasan percaya diri, seseorang menceritakan kekayaan-kekayaannya. Bukan pada seorang dua orang saya menyaksikan ini. Dia menyebut dirinya seorang percaya diri--dan kelakuan sehari-harinya adalah membangga-banggakan diri. Dia senang sekali menceritakan kelebihan dirinya. Ketika orang lain menyebutkan kesalahannya, dia langsung tak suka dan marah-marah.

Dan buah dari sikapnya itu, selalu dan selalu kehancuran. Misal saya mengenal seorang pemimpin lembaga pendidikan. Di msa-masa jayanya dia seringkali meneriakkn konsep percaya dirinya. Dia banggakan kemampuannya, kepintarannya, dan akhirnya...Anda takkan percaya, orang ini bangkrut pada akhirnya. Sekolahnya bangkrut, dan yayasan memecat dia dari jabatan ketua.

PERCAYAN DIRI, SEBUAH KONSEP JADAH

Percaya diri,
Jika banyak motivator mengajarkan ini, saya anggap wajar!

Mereka sekedar memberi semangat!

Yang jadi masalah mubaligh muslim
Ketika mereka ikut meneriakkannya, ini yang jadi masalah

Percaya diri?
Ajaran dari mana itu?
Tidak jelas asal-usulnya.
Jangan-jangan konsep jadah?

Yang jelas ketika saya buka Al-Qur'an,
Saya baca lho kok di sana tidak diajarkan.
Dalam kitab suci ini malah, percaya diri saya temukan pada jiwa orang-orang durhaka. Semacam Qarun, yang begitu percaya diri mengatakan, kepandaian dan pengetahuannyalah yang membuat dia begitu kaya raya. Sikap percaya diri saya temukan pada Namruz, yang dengan sombong koar-koar bisa menghidupkan dan mematikan. Jiwa percaya diri saya temukan pada raja tolol, bajingan dan keparat, si Fir'aun laknatullah...yang teriak-teriak tak tahu diri: "Akulah tuhan kalian yang maha tinggi." Dan sosok percaya diri saya temukan pada pemilik kebun dalam surat Al-Kahfi, yang dengan percaya diri membangga-banggakan kebunnya, namun akhirnya kebun itu roboh dan hangus.

Sebaliknya para Nabi yang Alloh tampilkan sebagai sosok teladan, saya dapati mereka bukanlah sosok percaya diri. Nabi Ibrahim dalam urusannya senantiasa mengadu kepada Alloh. Ketika dia tempatkan istri dan anaknya pada lembah kering, dia tidak percaya dirinya sanggup memberikan makanan kepada istri dan anak keturunannya. Dia hanya percaya kepada Alloh, maka hanya kepada-Nya dia mengadu: "Ya Tuhanju, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau, baitullah yang dihormati, ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37).

Selasa, 11 Maret 2014

Istriku, Aku Tidak Mencintaimu

Dulu kunikahi kamu, bukan karena aku mencintaimu. 
Kunikahi kamu karena aturan Tuhanku, begitulah cara mendapatkan kehalalanmu

Awal pernikahan, 
Sempat jua kurasakan cinta, namun segera kubuang. 
Karena kemudian sadar, rasa cinta itu akan sangat menyusahkan. 
Dan menyenangkan, sebagaimana aku meyakini itu, akhirnya kamu mengakuinya juga

Bukan sekali dua kali kita bicara
Tentang pentingnya menghilangkan cinta diantara kita

Aku tidak mencintaimu, 
Apapun kulakukan padamu, kulakukan bukan sebab mencintaimu

Aku membersamaimu, lembut padamu, mempergaulimu dengan baik, memberikan nafkah semampuku, itu semua kulakukan, bukan karena aku mencintaimu, melainkan karena, memang itu sudah Alloh wajibkan kepadaku, dan hanya dari-Nya, aku bisa berharap mendapatkan balasan cinta. Sedang jika itu kulakukan karena mencintaimu, kamu akan melihatnya kecil, karena akupun tahu, yang kuberikan itu tidak sebarapa, sedang jika kulakukan atas nama cinta kepada Alloh, maka Alloh akan selalu memberi harga, kepada semua amalan, bagaimana pun kecilnya.

Istriku, takkan pernah kulupakan peristiwa hari libur itu.
Hari itu, aku tidak sengaja mencintaimu
Sungguh itu sebuah ketidaksengajaan
Sungguh itu sebuah kekhilafan
Begitulah, 

Karena aku mencintaimu, hari libur itu kubersihkan lemari. Membersihkan luar dalamnya, membeningkan kaca-kacanya, mengelurkan botol-botol dan toples, membawanya ke kamar mandi dan membasuh debu-debunya. Tak cukup sampai di sana, demi cerianya wajahmu saat pulang nanti, kubersihkan pula sudut-sudut rumah dan merapikannya, dan ketika itulah kutemukan sekeresek ubi jalar. Ubi itu besar-besar, bagus-bagus, yang pastinya akan sangat manis kalau dikukus. Dan kulakukan rencana itu, agar sepulangmu nanti, ubi itu bisa kita nikmati, bersama, sepenuh hati.

Dan kamu tahu sendiri apa yang terjadi?

Dari dalam rumah, kudengar kamu datang dengan teriakan: "Hadduhhhhh!! Ini kenapa ubi malah dikukus!! Tadinya mau aku goreng!"

Aku membersihkan lemari
Membersihkan toples-toples
Membeningkan kaca, membeningkan botol-botol
Membersihkan sudut-sudur rumah
Menyediakan ubi kukus buatmu
Tidak kamu lihat,
Semuanya,
Hilang dari matamu
Yang kamu lihat hanyalah ubi goreng, dalam angan-anganmu
Yang tidak bisa kamu wujudkan.


Tidak mengapa, tak masalah

Karena kejadian itu memperingatkanku pada kesalahanku,
Tidak sengaja mencintaimu.

Demikianlah
Jika rumah tangga ini kujalani dengan cinta padamu,
Selamanya takkan pernah kurasakan kenyamanan. Karena jiwa
Yang bersemayam di badan rapuhku, akan selalu terancam kekecewaan.

Senin, 10 Maret 2014

Buku No Excuse!

Kalau saat ini saya disuruh milih satu buku paling bergizi, maka pilihan saya akan jatuh kepada No Excuse! Sebuah buku laris. Dalam sebulan, terjual lebih dari 50.000 eksemplar.

Pertama, bukunya ada di hadapan saya. Kedua, penulis bukunya sudah banyak ngobrol dengan saya.

Dengan membaca judulnya saja, buku ini sudah terinspirasi. Menurut saya, ini salah satu iri sebuah buku berkualitas bagus. Buku "Sang Pemimpi", dengan membaca judulnya saja, maka orang sudah terinpirasi untuk membuat impian. Atau buku "La Tahzan", maka dengan membaca judulnya saja, orang sudah terilhami supaya jangan bersedih.

Itulah buku No Excuse. Dengan hanya membaca jilidnya, orang sudah mendapatkan sesuatu. 
Dengan hanya membaca jilidnya, orang sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan, mengapa hidupnya selama ini selalu gagal, mengapa susah sekali untuk berhasil?


Excuse! 
Alasan, itulah biang keroknya.

Maka solusinya, langsung buku ini berikan:

No Excuse!

Jangan beralasan! 
Sebab, salah satu ciri orang gagal, dia mencari alasan untuk berhenti
Sedangkan orang berhasil, mereka berhenti mencari alasan


Satu keistimewaan emas dari buku ini adalah, kisah-kisah yang tersaji di dalamnya nyata. Ketika Anda menceritakannya kepada orang lain, Anda tidak akan sungkan, sebab kisah dalam buku ini kisah nyata. Jadi ketika membacanya, Anda membacanya dengan penuh kepercayaan. Terasa beda bukan, atara ketika membaca kisah-kisah nyata dengan kisah yang hanya sekedar kisah rekaan?

Bukannya  merendahkan fiksi. Dalam konteks lain, fiksi bisa lebih unggul. Namun dalam motivasi, kisah nyata justru lebih unggul. Penyajian kisah nyata membuat orang lebih percaya. Dan begitulah karakter buku No Excuse! Pada setiap konsep yang ditawarkannya, buku ini memberikan banyak bukti nyata. Semisal ketika membantah orang gagal dengan alasan tidak berbakat. Penulis mencontohkan anak pemalu dan norak, tapi berkat kerja keras, dia sukses menjadi bintang Pop Legendaris Dunia. Dia Elvis Presley.  Tak berhenti sampai di sana, makin parah Pak Isa terus mencontohkan anak suara jelek kaleng rombeng, si Tompi, tapi akhirnya sukses menjadi ikon Jazz tanah airnya.

Sama ketika membantah alasan lainnya. Alasan terlalu miskin dibantah kisah orang yang sukses dengan kondisi miskinnya. Alasan terlalu muda, penulis bantah dengan kisah kaum muda yang sukses. Dan alasan terlalu tua, juga sama.

Ini buku menarik dan fenomenal. Isinya padat, kaya, mengandung banyak kutipan mutiara berharga! Karena, penulis punya rencana mengembangannya menjadi beberapa bagian aja. Dalam sebuah wawancara santai saya dengan penulis, buku No Excuse ini rencananya, bakal menjadi sebuah buku induk. Dan setiap bab dari buku ini, akan penulis susun menjadi buku tersendiri.

Moga cepet beres!

Hubungan Pria Wanita Tidak Membutuhkan Cinta

(Tulisan ini boleh dibantah)

Menjalin hubungan dengan seseorang, tidak usah nembak. "Eh aku mencintaimu, kamu mau nggak jadi pacar aku?"

Kuno, basi, dan sangat menyebalkan!

Menjalin hubungan, tidak usah menyatakan cinta. Tembak-menembak hanya terjadi di masa perang. Orang yang menembak di masa damai itu namanya penjahat!

Menurut saya. Hubungan dengan wanita itu tidak membutuhkan cinta.

"Bagaimana Bisa?"
"Bisa!"
"Terus, apa menikah tidak membutuhkan cinta?"
"Tidak, menikah itu membutuhkan akad."
"Trus apa tujuannya menikah?"
"Menjalankan syariat agama saja."
"Berarti itu menikah hanya buat menyalurkan syahwat?"
"Memang iya."
"Wah, itu kalau istrinya tahu bisa bahaya tuh."
"Istri saya sudah tahu. Ini sudah saya katakan padanya. Hubungan kita tidak membutuhkan cinta. Karena ketika cinta, justru di sanalah permasalahan tiba. Saat cintai seseorang, maka dia memberi kekecewaan sedikit saha, rasanya itu sangat berlebihan."

Ini karena, cinta yang diucapkan kebanyakan orang itu omong kosong. Ucapan-ucapannya, janji-janjinya itu seringkali seringkali bulshit.

Dan bahkan menurut saya, jika cinta dengan sesungguhnya diberikan kepada seseorang, maka saat itulah, seseorang akan terjebak ke dalam kemusyrikan.

Kenapa? Pertama, ketika seseorang menyatakan cinta, maka orang ini rela menjadi hambanya, mencari ridonya, senang kepada apapun yang disenanginya, dan benci kepada apapun yang dibencinya. Namanya menjadi kenangan di hati, dan apapun yang kita lihat, akan menginspirasi hati kita untuk mengingatnya. Padahal semua itu, hanya layak ditujukan kepada Alloh.

Dengar ucapan seorang pencinta:

"Hatiku milikmu. Di hatiku hanya ada kamu."
"Kulakukan semua ini demi kamu, hanya untukmu!"
"Jiwa raga rela kukorbankan, demi kamu!"

Ini sudah menyalahi akidah.

Hubungan pria wanita tidak membutuhkan cinta.
Terjadinya sakit hati, stress, cemas, cemburu, sedih, menangis, itu terjadi karena seseorang menjalin hubungan pria wanita dengan memakai cinta. Kenapa seseorang membunuh mantan kekasihnya? Karena dulu dia jalin hubungan itu dengan perasaan cinta.

Coba kalau mereka santai-santai saja, bergaul ya bergaul saja. Membangun jiwa hubungan dengan prinsip: Kamu ya kamu, aku ya aku. Aku ngasih sama kamu bukan karena aku cinta kamu, aku memberimu karena aku mencintai dirinya sendiri, untuk bekal akhirat nanti.

Apa yang terjadi ketika putus?

Santai-santai aja kan? Tak ada masalah!

Hubungan pria wanita tidak membutuhkan cinta. Yang dibutuhkan hanyalah pernikahan. Dan seorang pasangan idaman bukanlah pasangan yang memberikan cintanya kepadamu, tapi dia yang memberikan cintanya kepada Pencipta kamu.

Karya Patricia Juelek

Rindu
Surat untuk Debu
Waw!
Cinta di Pintu Kematian
Sakitnya Sakitku
Aku Melihat Hujan
Dari Jendela yg Tak Ada Kaca
Versi Dewasa
Puisiku
Dua Mercusuar!
Hape
Marah
Aku Ingin Hidup Berarti 1
Aku Ingin Hidup Berarti 2
Aku Ingin Hidup Berarti 3
Busway Ini Membuatku Malu

Minggu, 09 Maret 2014

Resensi Buku "Bad Dreams & Hot Chocolate"



Putri Salsabila,
Pertama kali melihat fotonya waktu dia kecil.
Imut, sipit, tahu-tahu sekarang sudah gede, 17 tahun.
Buku Gara-Gara indonesia halaman-halaman akhir menyebut, Putri Salsa sudah terbiasa jadi pembicara. Saya penasaran,
Benarkah

Nah, workshop kemarin dia tampil, untuk mengkritik beberapa karya pesertta
Dan wah,
Caranya mengkritik itu luar biasa.
Ibaratnya sandal, itu dilempar-lemparin sama peserta workshop.

Ini gimana nih, kok gak logis banget
Ini kayak cerita-cerita jadul gitu
Ini dari judulnya aja udah puyeng
Ini tokohnya gimana nih, musingin banget

Yang dikritik tertawa-tawa saja.
Padahal, nada kritiknya salsa itu lh, bener-bener nyerang.
Ekspresi jengkelnya keluar banget.
Nah, setelah mengkritik, orang kan penasaran, memangnya sebaik apa karya dia?
Makanya, setelah Salsa mengkritik, Bundanya bilang, pasti nanti orang pada beli karya salsa buat mengkritiknya.

Peka juga mbak Asma.
Tahu banget rasa penasaran hadirin.
Termasuk saya...
Dia gitu banget sama orang, memangnya tulisan dia sebagus apa?

Mau banget protes, tapi keburu inget kata Pak Isa. Mengritik karya orang tu tidak perlu bisa nulis dulu.
Pelatih sepak, kerjanya nyuruh-nyuruh, kadang nyumpah-nyumpahin, dia sendiri belum tentu bisa.
Pak Isa sendiri pintar sekali mengritik. Karya dia sendiri? Mana? Paling cuma satu dua
Jadi, kalau saya nyerang masalah itu, sudah pasti, saya diserang balik

Belum apa-apa sudah tidak berdaya
Itulah saya
Ya sudah diam saja

Nah, malamnya saya ke kantor penerbitan Asma Nadia.
Nah, saya lihat-lihat, di sini banyak buku. Cari buku Salsabila, nah ternyata ada.
Judulnya coklat-coklat gitu. Tunggu sebentar, saya lihat lagi

"Bad Dreams & Hot Chocolate"

Coba saya periksa openingnya.
Wah, membuat penasaran juga. Dia memulainya dengan sebuah dialog
Tidak bertele-tele
Tidak ada belok sana-sini dulu
Langsung
Tidak ada serangan cuaca dulu. Di suatu senja
Dan openingnya ini tidak basi. Meski cerita anak, ini suatu yang baru
Bagi saya, sepertinya bagi yang lain juga begitu

Saya buka ke bagian dalam
Dialog dan narasinya filmis juga, mudah dibayangkan
Enak diikuti

"Gen langsung mengucir rambut pirangnya, terus memakai topi dan kecamatan hitam. Ia memakai juba coklat dan sepatu boot dengan alasan, mau berdandan selayaknya Nancy Drew. Daniel langsung memutar bola matanya saat tahu itu."

Saya maru ngritik apanya nih. Jadi malu.
Untuk ukuran anak-anak, karya ini sudah sangat bagus
Maklum anak penulis, lahir dari keluarga penulis, yang baka bagusnya nulis juga

Udah aja segitu.

Okelah Salsa, teruslin gaya Lo!

Novel "Cinta di Ujung Sejadan" dan Tukang Becak Sesat


Alkisah, seorang tukang becak mengantar pulang anak sekolah ke sebuah gang. Di gang itu dia menemukan penumpang,  lalu mengantarnya menuju sebuah Desa. Turun naik bukit tanpa lelah karena dia mengejar uang. Penumpang kedua turun, naik lagi penumpang ketiga, seorang nenek, minta diantar ke rumah cucunya di desa lain. Si nenek turun, barulah si tukang becak sadar, perjalanannya sudah sangat jauh. Hari menjelang malam, adzan Maghrib berkumandang, barulah si abang, dia mengayuh terlalu jauh, . Dan ia sangat sungkan/ Lesu telah mengayuh becak kejauhan, kini bertumpuk dengan lesu melihat jauhnya jalan pulang.

Banyak orang, secara tak sadar, telah berjalan terlalu jauh, hingga ketika melihat jalan pulang, dia melihatnya dengan mata sungkan. Seseorang melakukan sebuah dosa, dari dosa tersebut berbuntut dosa-dosa lainnya, dan dari dosa lainnya itu, terus berbuntut, berbuntut, dan berbuntut dengan dosa yang semakin banyak, dan da;am keadaan ini seseorang menyadari dirinya telah berjalan terlalu jauh, dan ketika melihat jalan pulang, dia melihatnya dengan mata sungkan. Betapa berat dan jauhnya perjalanan pulang yang harus ia tempuh.

Apa yang harus dilakukan dalam keadaan ini? 

Dia harus pulang, dan supaya perjalanan pulangnya terasa ringan, dia harus berjalan perlahan, dan dia harus merasakan hatinya senang di sepanjang jalan.

Nah, sebenarnya, untuk orang semacam inilah seorang novelis muslim atau muslimah hadir. Mereka merangkai kisah, untuk membantu orang sesat terlalu jauh, membimbingnya secara perlahan, dan memberikan rasa senang di sepanjang jalannya pulang.

Lewat novel "Cinta di Ujung Sejadah" ini Asma Nadia melakukannya. Melalui narasi lembutnya, dia ingin membimbing orang kepada kesadaran, akan besarnya cinta yang Alloh titipkan pada hati orang tuanya. Hal itu dengan jelas dia sampaikan dalam pengantar novelnya ini:

".........lewat novel ini, saya ingin mengajak anak-anak mudah kita untuk memahami bahwa sikap keras, cerewet dan bawel  yang ditunjukkan orang tua, lahir dari cinta, betapa pun sepertinya sulit menemukan nuansa kasih sayang dari mereka selama ini."

Dengan kisah seperti apa mbak Asma menyadarkan kita?

Anda hanya tahu setelah membaca novelnya. Bersama kisah mengalir dan enak dibaca, dengan sentuhan kata-kata halus, diselingi riang canda, melankolis, sesekali kocak dan sesekali penuh renungan, Asma Nadia menghanyutkan pembaca ke kolam ceritanya. Hanyut dalam kesenangan, penasaran, tak sabar ingin terus dan terus menguak misteri dan memasang keping demi keping puzle yang pembaca temukan dari dari baris satu ke baris lainnya. 

Iya, tapi bagaimana novelnya? Bagaimana kisah singkatnya? Tolong berikan sedikit potongannya saja! Mungkin itu pinta Anda.

Maaf, kalau sampai saya bocorkan isinya, berarti saya penghianat. Pak Isa dan Bu Asma orang baik, masa saya khianati juga?

Tapi demi Anda, dan karena saya lebih cinta kepada Anda, untuk kali ini, saya khianati keduanya. Baiklah saya kutipkan sebagian isinya. Sebagai penyuka humor, saya hanya mengutip bagian kocaknya:

"Aisyah menyerah juga. Badannya yang besar mulai terasa berat. Iwan dan Peter tidak berani meledek balik gadis itu. Bisa-bisa kena hantam. Kan malu-maluin. Teman-teman di sekolah saja harus ekstra hati-hati jika harus meledek Aisyah. Kadang-kadang sih dia oke saja, enaklah. Tapi sering juga kalau si sensinya kumat, jadi main hantam. Padahal siapa pun tidak akan lupa, aksi gadis itu waktu pertama masuk SMA dulu. Bayangkan, genteng dua puluh hancur dengan sekali sikat! Gimana gigi mereka!"

Beginilah Bu Asma, di tengah kisah sendu, sempat-sempatnya dia menyisipkan humor. Dan humornya itu sukses. Orang senyum membacanya. Kehalusanya meragkai kata bisa menghipnotis orang orang, mencongkel bibir pembaca, dan memamerkan giginya. Secara halus mbak Asma bisa membuat pembaca terbahak meski dompetnya sedang kosong.

Itu baru satu paragraf, belum lagi paragraf lainnya. Lembar-demi lembar Anda meluncur tak terasa, turun naik roalcoaster emosi, hingga tahu-tahu, Anda sudah sampai ke halaman akhirnya, bersama sebuah kesimpulan: pelajaran berharga.

Dan jika Anda seorang tukang becak sesat, bersama kisah ini, mudah-mudahan, setelah menutup halaman terakhir novel ini, Anda sudah sampai di rumah Anda--rumah kedamaian Anda.

Tugas Terpenting Saya Sekarang: Berterima Kasih

Ngapain peduli sama orang yang tidak mempedulikan saya. Masbanyak orang mempedulika saya dan belum sempat saya balas kepeduliannya. Kedatangan saya mengikuti workshop ke Jakarta ini atas dorongan Pak Isa, kepeduliannya, dan bantuan Bu Sri dari Samarinda. 

Dan kepedulian Pak Isa tak sebatas sampai situ saja. Dalam break makan, dia mengajak singgah ke penerbitannya untuk kumpul dan ngobrol di sana. Beres workshop, saya numpang mobilnya, dan saya mendapatkan banyak hal sepanjang obrolan dengan dia. Bukan tipe seorang yang jual mahal, bukan juga seorang yang pelit ilmu, dia berbagi di mana saja. Dia mana saja dia bertemu, di mana saya dia bisa menyampaikan, dia sampaikan itu ilmu. Mengalir saja obrolannya berbagi pengetahuan tanpa beban. Tanpa merasa sayang dan cemas: Aduh, kalau saya bagikan di sini, nanti buku saya tidak akan laku atau, kalau saya sampaikan begitu saja, nanti ceramah saya tidak akan menarik. Dia berbagi dengan ringan, dengan lancar. Dan itu menandakan kepeduliannya yang besar. Kepada orang seperti inilah saya harus peduli, dan saya membalas semua obrolan dia dengan perhatian penuh, dengan anggukan, dan berusaha mengerti apapun yang dia ucapkan.

Dalam mobil, kami berlima. Mbak Asmanadia, Pak Isa, Salsabila, dan sopir. Sesekali mereka mengobrolkan tentang suasana rumah mereka, dan saya banyak mendapatkan pengetahuan berharga. Oh, begini ya keluarga penulis.

Tidak langsung ke rumah, singgah dulu ke rumah makan. Saya kira ke Restaurant biasa, ternyata beda, ini restaurant cepat saji. Yang makanannya gaya barat semua, kayak goreng ayam, coca-cola, roti memeluk daging, mayones, pokoknya begitulah makanan orang kaya. Ya saya ikut saja menikmatinya. Pak Isa mengambil cola, ayam burger kemudian jajan eskrim, dan saya memilih makan nasi secomot dengan ayam panggang dan paha. Berapa habis uang sekali makan itu? 250 ribu lebih. Dan selama makan, makin banyak saja pengetahuan yang Pak Isa bagikan.

"Gue nggak setuju sama konsep keajaiban rezeki. Memberi satu nanti kembaliannya sepuluh. Itu mengajarkan orang males. Habis ngasih langsung nunggu. Kalau gue nyumbang ya nyumbang aja. Gue mau uang, ya gue kerja. Gue nyari lagi. Soal balasan sumbangan gue, ya itu buat di akhirat."

"Jadi maksud bapak mau mengajarkan ikhlash juga ya?"

"Ya iyalah, makanya saya ngasih apapun ke elu, ya itu bukan urusan gue lu berterima kasih atau tidak, urusan gue tinggal sama Alloh, buat gue ngasih pahala di akhirat."

Dari rumah makan, naik lagi mobil, sampai ke Rumah Bacanya, terus lagi dia berbagi pengetahuannya. Tiada cape-capenya, tiada habis-habisnya. Dan akhirnya......

"Dan, kalau mau wifi tuh di atas, di lantai tiga."

Nah, dengan wifi itulah saya memposting tulisan ini. Dan masih banyak lagi orang dengan kebaikan sehebat Pak Isa, yang membuat saya karenanya merasa, dalam hidup ini, tugas terpenting saya adalah, mengucapkan terima kasih.

Jumat, 07 Maret 2014

Download Gratis MP3 Tafsir Al-Mishbah

Tafsir Al-Misbah QS. Az-Zalzalah
Tafsir Al-Misbah QS. At-Takatsur
Tafsir Al-Misbah QS. A-Nashr
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Maun
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Kautsar
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Insyiqaq
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Humazah
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Fiil
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Buruj
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Balad
Tafsir Al-Misbah QS.Al-Ashr
Tafsir Al-Misbah QS. Adh-Dhuha
Tafsir Al-Misbah QS. At-Thariq
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Fajr
Tafsir Al-Misbah QS. Al-Fatihah
Tafsir Al-Misbah QS. Abasa

MP3 Membuat Uang Bersujud di Kaki Anda

DOWNLOAD DI SINI

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. Az-Zalzalah

DOWNLOAD DI SINI


Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. At-Takatsur

DOWNLOAD DI SINI



Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. A-Nashr

DOWNLOAD DI SINI



Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. Al-Maun

DOWNLOAD DI SINI





Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:


Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. Al-Kautsar

DOWNLOAD DI SINI



Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. Al-Humazah

DOWNLOAD DI SINI



Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. Al-Insyiqaq

DOWNLOAD DI SINI



Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. Al-Fiil

DOWNLOAD DI SINI



Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. Al-Buruj

DOWNLOAD DI SINI



Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS. Al-Balad

DOWNLOAD DI SINI




Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya:

Download Gratis MP3: Tafsir Al-Misbah QS.Al-Ashr

DOWNLOAD DI SINI




Dapatkan juga yang MP3 Tafsir lainnya: