Tatapannya tajam menusuk. Nafas tertahan, aku tediam kaku. Terpana membalas tatapannya, ketika dia mendekat, tanpa sadar aku berdiri. Tamu berdatangan tak kupedulikan, kubiarkan kakak dan adikku melayani, sedang aku sendiri, perlahan berjalan menuju pria itu. Perlahan kami semakin dekat, dan ketika jarak tinggal setengah meter, tangannya meraih tanganku, sebuah getaran mengalir. Tangan kekarnya, membimbingku ke dalam rumah, yang entah mengapa aku, seakan tak bedaya, begitu saja mengikutinya menuju sebuah kamar. Siapa dia, siapa aku. Dia bukan siapa-siapaku, aku bukan siapa-siapanya. Kami orang lain, namun kami masuki kamar itu, berdua, dan tanganku, begitu saja menguncinya. Kini kami telah di dalam, dalam kesunyian, dan segala keramaian tamu di luar seakan hilang.
Ampun oh ampun, ampun seribu ampun. Oh pembacaku, itu cuma ilustrasi, untuk menyampaikan padamu, oh pembaca, perilaku semacam itu bukanlah sifatku. Aku gadis, aku wanita, dan sebagaimana wanita umumnya, punya rasa sebagaimana normalnya wanita. Akan tetapi sebagaimana wanita sopan santun pula, rasa malu masih memagarku. Ketika pemuda staf katering itu menyampaku, kujawab biasa saja. Tampaknya dia ingin bicara, akan tetapi kesibukan mempersiapkan makanan, dan kesibukanku sendiri menerima tamu, membuatnya tak leluasa.
Aku masih sadar, tinggalku di sini, di rumah orang lain. Ibu guru yang merawatku ini orang lain, aku tetaplah tamu, dan karenanya, dalam acara ini, aku tak mau mengecewakan tuan rumah. Di hari istimewanya ini, harus kuberikan yang terbaik padanya.
Hari sudah sore, plastik bekas minuman berserakan di tanah, kursi tamu sudah kosong, dan aku, telah sejak tadi menutup buku tamu. Alunan lagu sunda masih tersisa, namun kini samar, volumenya mengecil, tinggal suara trang-treng-trong gelas beradu piring di dapur, dan aku, pastinya harus segera menanggalkan kebaya ini. Cantik riasanku, terpaksa harus segera kembali kepada semula. Kegembiraan riasan, sebagaimana hari pengantin, hanya kegembiraan sehari, sesaat, simbol fananya kesenangan dunia.
Aku berjalan menuju tukang rias ketika kakakku mendekat. Memberiku selembar kertas.
"Apa ini Teh?" Tanyaku pada kakakku.
"Lihat saja sendiri."
"Kartu nama. Dari siapa Teh?"
"Baca saja sendiri!"
Tertera di sana, nama seorang pria. Sayang tak tertera fotonya. Kutanya kakakku, apa saja ciri-cirinya--perawakan dan wajahnya. Teteh menyebut beberapa sifat, dan aku teringat, mirip sekali dengan pria yang tadi menyapaku. Benar sepertinya dia, pikirku.
"Untuk apa ini Teh?"
"Ya, siapa tahu saja!"
"Siapa tahu apa?"
"Jodohmu"
"Ah, jangan ngawur Teh!"
"Halah, kamu jangan pura-pura. Jujur saja, tertarik bukan dengan Arjuna itu?"
"Biasa saja Kok"
"Haha. Eh, tadi Teteh kasih juga nomor telfon rumah ini. Tunggu saja ya, mungkin nanti dia bakal telfon."
"Apa?"
Baru juga tuntas cape menerima tamu, harus bersambung lagi dengan capenya cemas. Kalau nanti pemuda itu nelfon, pasti jadi masalah. Ibu angkatku baik, ya aku mengakuinya--tapi tidak dalam masalah pacar. Anak-anaknya sangat dia jaga, termasuk aku. Pria sembarangan jangan main apel, kecuali dengan niat serius. Cuma main-main, cuma pacaran, maaf saja, meski satu jam ngobrol bebas, harus siap diblokir.
Tapi entahlah jika pria itu ngobrol lewat telfon, masihkah ibuku tak suka?
Itulah yang kucemaskan.
Dan malam itu, bakda Isya.....
Kring!!!!!
"Silva........!!!!" Panggil ibu angkat. "Ada telfon buatmu."
Sambil kujawab suara di seberang sana, sesekali kutoleh ibu angkatku. Biasa saja, tak menampakkan wajah kecewa. Tak kulihat sikap tak suka. Karenanya kuterima telfon dengan santai. Pada kursi plastik, aku ngobrol sambil bersandar.
Aku terbiasa akrab dengan orang, karenanya tak bisa jaim ketika pria itu mengajakku ngobrol. Agak lama gagang telfon itu menutup telingaku. Pria itu mananyakan banyak hal, dan aku sendiri, tak puas jika menjelaskan sedikit. Tambah lagi aku sendiri pun banyak bertanya padanya.
Itu terjadi nyaris setiap malam. Andai saja ini rumahku, dan ibuku membebaskanku menggunakan telfon, mungkin tak masalah Tapi ini rumah orang, kebanyakan menggunakan telfon tak enak juga. Tambah lagi ibu angkatku, melihatku sering intim di telfon, lama-lama berubah juga. Kini, wajah kusam akan dipasangnya setiap kali aku menerima nelfon. Aku tak enak, maka akhirnya kusampaikan pada pria itu, tak usah lagi menghubungiku. Dan komunikasi kami putus.
Kehilangankah aku?
Ada memang, tapi biasa saja.
Kesepiankah?
Ada, tapi sedikit. Selaam ini, perbincanganku dengannya biasa saja. Jiwa yang kupasang juga, tak berlebihan. Hasrat, cinta, harapa, berusaha kusingkirkan. Telah sejak lama kupelajari, dalam berhubungan dengan orang, jangan pernah mengumbar harapan. Harapan yang bebas lepas terbiarkan, nyaris bisa kupastikan, hasilnya selalu kekecewaan. Saat sedikit berbincang ria dengannya, sudut pandang yang kupasang saat itu adalah, di mataku, dia adalah seorang yang mau menjalin persaudaraan. Tak lebih. Dan aku sendiri, sebagai yatim piatu, yang hidup di tengah orang lain, kupikir, sangat membutuhkan banyak saudara.
Terus, masalah rumah tangga, tak adakah pikiranku ke sana?
Tentu saja ada. Pernah kudengar, juga sempat kukhayalkan sendiri, tentang indahnya bersuami, saling menautkan tangan, mengayuh sepeda rumah tangga, berketurunan, punya anak, punya cucu, lalu menjadi nenek bahagia. Akan tetapi untuk saat ini, kurasa, bukan bagian yang harus kupusingkan. Diriku, nasibku, masa depanku, kuserahkan pada Tuhan. Begitulah prinsipku kini.
Di butir-butir padi manakah tersimpannya saripati anakku, sama sekali tak tahu, dan pula, tak pernah mau mepertanyakannya, sebagaimana aku pun tak mau bertanya, lewat jalan manakah nanti kutemukan jodohku. Semesta pasti telah menyimpannya, dan akan berjalan, menuju kepastian itu sesuai titah Yang Maha Pencipta. Bagai iringan minuman teh madu di pabrik, atau lembaran-lembaran benang di mesin tekstil, semuanya telah diskenario untuk mengarah pada satu jalinan sempurna, di suatu waktu, sesuai kepastian-Nya. Tak usah kau ulang, jika bagian ini tidak kau mengerti, sebab maksud intiku hanyalah, bahwa aku, takkan terlalu memusingkan yang namanya jodoh. Usahaku untuk itu sederhana saja, aku, sebagai wanita, hanya punya kriteria, dan sisanya, adalah berdoa menginginkan yang terbaik menurut-Nya.
Kukatakan pada diriku sendiri, jangan kepada masalah itu dulu konsentrasiku. Ijazah SMA ini harus manfaat buatku mencari kerja. Pembacaku, kalian biasanya teriak idealis, "Aku tak mau mencari kerja, aku ingin menciptakan lapangan kerja", tapi biasanya buktinya, dapat kerja tidak, menciptakan lapangan kerja pun tidak.
Ada juga yang berlagak mau mandiri, berani pinjam modal ke bank, dengan jaminan rumah bapaknya, kemudian buka usaha, kredit kendaraan, sambil terus kuliah, namun kemudian bangkrut, kuliahnya terbengkalai, kendaraannya dijabel.....nah, kukira nasib orang ini sama dengan pribahasa: Sekali merengkuh dayung, berenang-renang ke tepian.
Aku mau biasa saja, mencari kerja, dengan ijazah hasilku sekolah, dan Alhamdulillah, aku diterima pada salah satu toko di Bandung Super Mall. Keren nggak sih? Menurutku sih lumayan. Berangkat pagi dengan pakaian rapi, kemudian kerja di tempat nyaman. Tempatku bekerja adalah toko besar grai pakaian milik babah asal Korea. Sudah menjadi janjiku, juga ungkapan rasa syukurku, jika diterima kerja akan puasa, dan ini kulakukan. Sebulan berlalu, kudapatkan gaji pertama, tak bisa kulukiskan betapa gembiranya.
Dalam hati kuberjanji, gaji pertamaku, ingin kubagi pada ibu angkatku, juga sebagian, kusedekahkan pada nenekku, sambil mengunjunginya, sambil kuantarkan pula beberapa pakaian dan perlengkapanku bekas sekolah. Karena uangku cukup, setelah kerja ini, aku jadi sering ke rumah nenek. Bagaimana pun cueknya dia dulu, bagaimana pun dia tak peduli sekolahku, namun kampungnya, rumahnya, tetap kuakui, ada kedamaian di sana.
Hari beradu terlahir minggu, minggu terjalin menyulam bulan, dan entah telah berapa purnama kulewat, ketika sampai episode ini, yaitu episode ketika bermalam rumah nenekku, tak sengaja kutemukan sebuah kartu, pada sela-sela halaman buku. Kartu nama itu, kartu nama pemuda itu, staf katering itu......
Sejenak aku tertegun, menangkupkan muka ke wajah, bingung, apa yang harus kulakukan. Haruskah kuhubungi, tapi siapa dia. Eh lupa, dia kan saudaraku......
Ada mau, ada malu, ada sungkan, ada segan, ada rindu, eh kok rindu....ah ada-ada saja......
(Bersambung)