Tanpa memerlukan jawabanmu
Kini
Aku hanya ingin bertanya
Selama ini, untuk siapakah jarimu menulis puisi?
Bukankah begitu bahagia,
Jika siapa pun yang kau tujukan puisi untuknya
Memperhatikan puisimu, bukankah
Hatimu seketika semarak bunga, manakalah tahu
Siapa yang jarimu tujukan puisi untuknya, mengetahui perasaanmu
Memahami sedalam-dalamnya, kemudian membalasnya
Bukankah itu kebahagiaan maha besar bagimu
Tapi membacakah dia?
Tahukah dia?
Pahamkah dia?
Merasakankah dia?
Dalamkah hatinya sedalam hatimu?
Sepenuhnyakah dia sepenuh dirimu?
Pastikah? Yakinkah? Benarkah?
Bukankah, untuk semua pertanyaan itu, Kamu hanya bisa angkat bahu?
Lalu tahukah Kamu
Siapakah sesungguhnya yang melihatmu setiap waktu
Memperhatikanmu, mengertimu, memahamimu
Mengetahui perasaanmu?
Membalasmu?
Berterima kasih kepadamu?
Rahasiamu?
Gerik hasrat hatimu?
Aku tidak butuh jawabanmu
Karena nurani kita telah teriak habis-habisan sejak lama
Teriakan keras yang tenggelam dalam sunyinya kedalaman samudra
Samudra keangkuhan kita,
Bahwa Dialah Dia itu, dan hanya Dia, tiada selain Dia
Jadi, ke manakah
Seharusnya semua ungkapan indah itu teralamat?
Dan ketika nurani seorang insan menjawabnya dengan ikhlash
Maka deraslah bening air mata mengalir, mencuci bersih semua kekeruhan hasrat
Dan lembutlah hati siapa pun,
Manakala mengenal-Nya dengan murninya kemakrifatan
Beloklah untaian kata indah hanya kepada-Nya
Akan tetapi ke mana,
Ke mana selama ini puisi-puisi itu mengarah?
Bukan beta bijak berperi, bukan peri bijak berbeta,
Bukan hakim penegak hukum, bukan hukum pemancung hakim,
Bukan siapa pun, aku
Hanyalah burung kutilang
Yang bernyanyi sendirian di kandang
Manakala kini menulis kalimat-kalimat ini................
Sahabatku sesama manusia
Sesama makluq melataku di semesta
Kalau tak ingin merasakan perihnya kecewa
Sedih terhimpit kekerdilan diri tanpa daya
Menyesal sejadi-jadinya di atas genangan sakit hati tak tertahankan
Maka
Puisi rindu, puisi cinta, pujian, sanjungan, dan pemujaanmu
Jangan sedikit pun salah alamat
Manusia bukanlah haknya
Alamat sesungguhnya, hanyalah Dia yang Esa
Hanya kepada-Nya, terangkat segala puji, bukankah
Sudah sejak lama Anda membaca
"Segala puji bagi Alloh, Rabb semesta alam"
Jika Al-Furqan itu pegangan hidupmu, maka inilah kompasmu
Tempatmu merujuk, ke manakah semua ungkapan Indah itu seharusnya tertuju....
Postingan Populer
-
DOWNLOAD DI SINI
-
Putri Salsabila, Pertama kali melihat fotonya waktu dia kecil. Imut, sipit, tahu-tahu sekarang sudah gede, 17 tahun. Buku Gara-Gara indonesi...
-
DOWNLOAD DI SINI
-
DOWNLOAD DI SINI
-
Industri video bokep Jepang semakin kreatif. Mereka tahu betul selera masyarakat mesum susah dihentikan. Pasangan-pasangan baru mereka orbit...
-
Turun di Stasiun Kereta Jatinegara harusnya saya beli tiket. Ini tidak, saya langsung naik KRL. Akibatnya di dalam, terus tengok kanan kiri,...
-
Alkisah, seorang tukang becak mengantar pulang anak sekolah ke sebuah gang. Di gang itu dia menemukan penumpang, lalu mengantarnya menuju s...
-
Kongkrit itu jelas Abstrak itu tidak jelas. Dan...... Salah satu keterampilan menulis adalah, Bisa mengkongkritkan yang abstrak. Membuat yan...
-
Bebaskan dirimu dari rasa iri dan angkuh, karena mereka tidak pernah datang sendiri, merek selalu dibarengi oleh amarah, keserakahan, kete...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar