Postingan Populer

Selasa, 18 Februari 2014

Untuk Siapakah Puisimu?

Tanpa memerlukan jawabanmu
Kini
Aku hanya ingin bertanya
Selama ini, untuk siapakah jarimu menulis puisi?

Bukankah begitu bahagia,
Jika siapa pun yang kau tujukan puisi untuknya
Memperhatikan puisimu, bukankah
Hatimu seketika semarak bunga, manakalah tahu
Siapa yang jarimu  tujukan puisi untuknya, mengetahui perasaanmu
Memahami sedalam-dalamnya, kemudian membalasnya
Bukankah itu kebahagiaan maha besar bagimu
Tapi membacakah dia?
Tahukah dia?
Pahamkah dia?
Merasakankah dia?
Dalamkah hatinya sedalam hatimu?
Sepenuhnyakah dia sepenuh dirimu?
Pastikah? Yakinkah? Benarkah?
Bukankah, untuk semua pertanyaan itu, Kamu hanya bisa angkat bahu?

Lalu tahukah Kamu
Siapakah sesungguhnya yang melihatmu setiap waktu
Memperhatikanmu, mengertimu, memahamimu
Mengetahui perasaanmu?
Membalasmu?
Berterima kasih kepadamu?
Rahasiamu?
Gerik hasrat hatimu?
Aku tidak butuh jawabanmu
Karena nurani kita telah teriak habis-habisan sejak lama
Teriakan keras yang tenggelam dalam sunyinya kedalaman samudra
Samudra keangkuhan kita,
Bahwa Dialah Dia itu, dan hanya Dia, tiada selain Dia

Jadi, ke manakah
Seharusnya semua ungkapan indah itu teralamat?

Dan ketika nurani seorang insan menjawabnya dengan ikhlash
Maka deraslah bening air mata mengalir, mencuci bersih semua kekeruhan hasrat
Dan lembutlah hati siapa pun,
Manakala mengenal-Nya dengan murninya kemakrifatan
Beloklah untaian kata indah hanya kepada-Nya

Akan tetapi ke mana,
Ke mana selama ini puisi-puisi itu mengarah?

Bukan beta bijak berperi, bukan peri bijak berbeta,
Bukan hakim penegak hukum, bukan hukum pemancung hakim,
Bukan siapa pun, aku
Hanyalah burung kutilang
Yang bernyanyi sendirian di kandang
Manakala kini menulis kalimat-kalimat ini................

Sahabatku sesama manusia
Sesama makluq melataku di semesta
Kalau tak ingin merasakan perihnya kecewa
Sedih terhimpit kekerdilan diri tanpa daya
Menyesal sejadi-jadinya di atas genangan sakit hati tak tertahankan
Maka
Puisi rindu, puisi cinta, pujian, sanjungan, dan pemujaanmu
Jangan sedikit pun salah alamat
Manusia bukanlah haknya
Alamat sesungguhnya, hanyalah Dia yang Esa
Hanya kepada-Nya, terangkat segala puji, bukankah
Sudah sejak lama Anda membaca
"Segala puji  bagi Alloh, Rabb semesta alam"
Jika Al-Furqan itu pegangan hidupmu, maka inilah kompasmu
Tempatmu merujuk, ke manakah semua ungkapan Indah itu seharusnya tertuju....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar